Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Holaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Holaqoh. Tampilkan semua postingan
01.33
Dialog Agama, Wacana Perdamaian Antar Umat Beragama
Written By Lakpesdam NU Sampang on Jumat, 08 November 2013 | 01.33
Prof Dr Mariam Ait Ahmed adalah aktifis perempuan dari Maroko yang sangat terkenal. Beliau juga dikenal sebagai pakar perbandingan agama dan pemikiran Islam kontemporer. Saat ini beliau menjabat sebagai ketua riset dan pengembangan studi masa depan dan ketua jurusan perbandingan agama dan dialog peradaban serta ketua Asosiasi Persaudaraan Maroko-Indonesia.
Berikut ini petikan wawancaranya dengan Abdul Haq bin Rahmun:
Bagaimana pendapat anda mengenai gambaran Islam di tengah-tengah revolusi dunia Arab?
Salah satu hasil utama revolusi Arab saat ini adalah kembalinya kontroversi dunia Internasional tentang Islam bukan sebagai agama akan tetapi sebagai pergerakan. Baik itu yang berhubungan dengan peranan yang memicu revolusi itu sendiri, atau pun masa depan politik dan pergerakan saat ini. Ada indikasi bahwa kekuatan Islam yang tumbuh dalam revolusi Arab mempengaruhi para sekuler, liberal secara internal dan Barat dalam tingkatan internasional yang berdampak kembalinya obsesi Islam phobia, kekhawatiran dan ketakutan sebagai hasil dari pada revolusi Arab, hal ini dijelaskan sebagian dari pada mereka dalam berbagai forum sebagai musuh demokrasi, perempuan, seni, kebebasan agama dan budaya.
Ada konflik intelektual antara agama dan ideologi, sementara Islam dijadikan sebagai target utama. Bagaimana umat Islam dapat memberikan peranan dalam berdialog dengan Barat tanpa fanatisme?
Saat ini Islam tentunya memainkan peranan yang dominan dalam perdebatan politis, kontroversi dalam ruang lingkup ideologi sejarah dan konflik agama dengan pihak-pihak yang berbeda. Baik itu di dalam maupun di luar daerah. Kontroversi antara skeptisme dan intimidasi menimbulkan kritikan terhadap kebijakan ajaran Islam untuk “mengkritik prinsip-prinsip agama secara global”dengan mengadopsi kebijakan yang inklusif dan menggapai pemberdayaan antara kontroversi ideologi.
Terdapat pertanyaan, bagaimana mungkin peradaban dikatakan sebagai produk budaya Islam yang jauh dari aksi dan reaksi yang terlahir dari fanatisme yang berkembang dalam corak fikir orang Barat. Dalam tahapan ini kita dituntut untuk mengaktifkan kembali segala komponen dialog peradaban yang seimbang, serta pemurnian mental masa depan dari keterbelakangan berlebihan yang mengasingkan mereka dari peranan kompetisi politik internal dan peradaban internasional. Hal tersebut dilakukan dengan mengambil jalan dialog yang mengedepankan pengetahuan, keilmuan, dan teknis, serta pengembangan sistem pendidikan dan pengajaran yang membentuk moral manusia, dan merencanakan program diplomasi organisasi dan sosial kemasyarakatan juga pengembangan media di tingkat regional maupun internasional. Disamping menjalin hubungan yang lebih erat antara pribadi dengan organisasi kebudayaan dan universitas-universitas di Barat dan Timur.
Baru-baru ini ada orang yang mencoba mendistorsi Islam dan mencorengnya, tetapi dunia Arab dan Islam dengan tergesa membalasnya dengan kekerasan dan pertumpahan darah seperti yang baru-baru ini terjadi di Libya, yang menyebabkan terbunuhnya duta besar Amerika. Bagaimana pendapat anda tantang perilaku seperti itu yang menyebabkan bencana dan kedengkian?
Saat ini ketika orang Barat melihat kita, bahwasanya Muslim adalah orang terbelakang, barbar, dungu, biadab dan teroris. Itu memang tanggapan yang kita prediksikan, sementara sebagian dari kita terlihat melakukan kekerasan di jalan-jalan. Bahkan aksi tersebut sudah sampai kepada pembunuhan orang-orang tidak bersalah seperti yang terjadi di Libya dan membakar instansi- instansi pemerintah dan kedutaan. Dalam Islam kita memiliki keyakinan “bahwa setiap orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” seperti halnya kita menolak penghakiman universal terhadap seluruh umat Islam setelah peristiwa 11 September. Dan penetapan mereka terhadap kita akan perbuatan yang tidak dilakukan oleh kita. Sebagaimana diri kita sendiri tidak akan dapat menghakimi seluruh orang yang melakukan penyimpangan di rumahnya sendiri. Akan tetapi, kita kembalikan urusannya kepada hukum pidana yang berlaku. Saya mengira bahwa kekerasan dan tindakan emosional akan dapat menyeret kita ke masa depan yang penuh dengan peperangan antar agama, keyakinan, madzhab dan golongan. Sebagaimana yang baru-baru ini dirasakan orang Islam di Burma dengan Budha, sampai batasan membunuh manusia hidup-hidup yang disandarkan pada agama dan sekte. Nah, apakah kita akan ikut bergerak dalam proyek pembuatan film dan menyalakan sumbu perpecahan antara Koptik dan Muslim yang hidup damai di Mesir, dengan alasan mereka berkontribusi dalam pembuatan film!!!
Kita dalam ajaran Islam yang jauh dari kepentingan tertentu selalu ikut perintah Tuhan kepada kita”katakan wahai ahli kitab marilah kita berpegang teguh kepada satu kalimat” yang dimulai dengan ajakan terhadap agama dan mengadakan dialog yang jauh dari perpecahan dan kekerasan. Saat ini, bahkan lebih dari sebelumnya, kita sangat perlu dengan dialog antar agama dan budaya untuk memperbaiki kembali dialog antara agama dan kebudayaan yang pernah terjadi, untuk mengembalikan apa yang hilang dari kedua belah pihak. Orang lain bukanlah satu-satunya dan tidak absolut, melainkan juga memiliki keberagaman, kontroversi, juga persilangan pendapat. Mereka juga memiliki orang-orang cendekia yang melakukan dialog dengan cendekiawan kita. Mereka juga memiliki orang-orang dungu dan fanatik, yang kadang selalu bertabrakan dengan yang sama-sama dungu dari semua penjuru dunia.
Apakah landasan Islam terhadap dialog agama, pentingnya dialog serta tujuannya? Yang dianggap sebagai asas untuk bertukar pengetahuan mendalam yang menjadikan kritikan yang membangun, jauh dari menjatuhkan dan menghina-hina. Sehingga dialog dan kritik bisa saling melengkapi bukan malah menimbulkan pertentangan?
Dalam konteks ini kita harus menentukan sikap kita akan dialog dan menyesuaikan dengan metode yang diajarkan Islam, tidak melalui perubahan situasi politik untuk mendeklarasikan penolakan atau penerimaan terhadap tekanan global. Dengan kata lain apakah kita berdialog dengan yang lain sesuai dengan metode yang diajarkan Islam yang bersandarkan asas-asas dialog antara agama secara teoritis dan praktis, dan mengetahui perbedaan kebudayaan dan pengetahuan tentang berbagai peradaban, atau kita berdialog dengan menjustifikasi lawan kita ketika mereka tidak sejalan dengan kita dan memprovokasinya?
Saya telah membahas topik ini secara terperinci dalam buku saya yang berjudul “Dialetika Dialog: Wacana Islam Kontemporer” sebagai upaya menjalin dialog antara penganut agama Islam dengan yang lainnya dengan cara yang benar. Yang disandarkan kepada konteks Al-Quran dan Hadits yang jauh dari unsur politik dan propaganda yang menjadikan dialog agama sebagai tujuan massa tertentu. Saya jelaskan di dalam buku saya tentang anjuran dialog sebagaimana yang ada dalam ajaran Islam dialog antara agama dan budaya. Dari realitas sejarah, saya menyaksikan akan lembaran yang begitu indah tentang peradaban kehidupan kita dengan non Muslim, jauh dari manipulasi dan kepentingan budaya Barat yang mana dialog dijadikan bagian dari agenda mereka.
Saya jelaskan dan saya tegaskan dalam buku saya bahwa pandangan terhadap fakta tatanan dunia saat ini, visi dan misi ke depannya sampai kepada keraguan akan kemampuan untuk berhasil berdasarkan berbagai konferensi terhadap dialog agama. Kerja sama internasional merupakan salah satu solusi terhadap problematika kita saat ini.
Terdapat berbagai sebab ketegangan terhadap aturan atau tatanan yang ada ialah karena kesombongan etnis, fanatisme agama yang merupakan hasil dari ketidaktahuan akan agama, budaya dan peradaban lain, dan dibalik semua itu menyebabkan krisis yang harus diatasi dengan dialog, saling mengenal, dan adanya akulturasi, sehingga jauh dari pada pemberangusan dan pengingkaran terhadap yang lain, dan tidak mau menerima perbedaan budaya yang ada. Salah satu solusinya yakni dengan berdialog secara terbuka dan dengan kemitraan, dengan demikian akan membentuk manusia dengan peradaban.
Islam dijadikan sebagai target pelecehan sebagai mana yang terjadi belakangan ini melalui film Amerika Kebebasan Islam dan kartun dalam majalah Perancis, Sebagaimana yang telah terjadi masa lalu terdapat pelecehan terhadap Islam dalam sebagian buku-buku sastra bahkan ada yang menawarkan untuk membakar Al Quran, jadi langkah apa yang paling tepat untuk menanggapi penghinaan tersebut dengan cara membangun peradaban?
Lebih tepat untuk para pengacara Muslim di Barat dan para pemikir untuk mengangkat masalah ini melalui jalan hukum, para wartawan dengan media, penulis dengan bukunya, dan perfilman dengan produksi, mereka bersama-sama meminta maaf terhadap apa yang menyakiti jutaan umat Islam, dan jaminan perlindungan akan keamanan jiwa serta kebebasan beragama milyaran umat Islam, perkara ini ketika diselesaikan dengan jalur hukum, mendorong opini umum untuk mengikuti perkembangan kasus dan penyebabnya, khususnya saat ini dengan berbagai media informasi mengajak kepada penyelesaian masalah fanatik agama dan ajakan kepada perdamaian dengan perjanjian dan menepiskan hal-hal yang berbau pelecehan agama dan menghormati para penganut agama samawi.
Saya fikir dengan cara ini akan dapat memberikan kekuatan bagi umat Islam dalam keyakinan dan perlindungan agama mereka, saat ini kita dalam kondisi dua pilihan, menuntut balik dengan kekerasan dan menyukseskan proyek orang-orang yang fanatik di Barat. Tentu hal ini akan sangat membahayakan terhadap agama kita, atau mencari langkah yang efektif dengan membantah apa yang dituduhkan golongan fanatik di Barat, dan memberikan pemahaman kepada para cendekia akan kesantunan agama ini, menepiskan praduga mereka untuk memproduksi sebuah film untuk skala internasional, dan ini mengarah kepada capaian masa depan untuk dunia Islam dalam peradaban umat, dengan logika berfikir yang benar, dengan adanya timbal balik kemaslahatan kita dalam media-media elektronik dan komunikasi dunia internasional.
Dialetika dialog wacana Islam kontemporer yang merupakan ruang lingkup anda dalam dunia akademik itu, apa konteks, syarat dan metode dalam dialog antara agama?
Ajakan terhadap dialog antara agama, dari orang Islam sangat erat kaitannya dengan pertukaran antar wacana. Dialog dan kritik dalam membentuk wacana masa depan dunia Islam kontemporer, berawal dari pertanyaan apakah definisi dan batasan dalam pembentukan wacana yang realistis dan efektifitasnya dalam pemikiran Islam kontemporer?
Pertama harus dengan membedakan antara tiga tahapan dialog antara pengikut agama yang berbeda, yaitu gesekan yang ada dalam kehidupan sehari-hari, pertemuan dalam kesempatan-kesempatan atau kepentingan bersama, dan wacana yang mengarah kepada kesulitan tiap golongan. Bukan berarti segala gesekan, pertemuan atau wacana antara umat Islam tentang agama yang berbeda termasuk dialog antara agama, terkadang gesekan akan menghasilkan bentrokan, terkadang pertemuan menyebabkan pada penolakan, dan wacana kadang berdampak pada kesalahpahaman jika ketiga syarat dan rukun dialog itu sendiri tidak terpenuhi, yakni:
Dialog kehidupan, apa yang ada dalam realitas saat ini bahwa agama bermacam-macam, yang dibangun atas pondasi kehidupan bersama dalam masyarakat yang didalamnya terdapat syarat- syarat tertentu yang memberikan aturan pertemuan antara orang Islam.
Dialog kemanusiaan, yakni dengan menanamkan nilai moralitas antara umat beragama untuk menggapai keadilan sosial dan mengangkat hak asasi manusia dan menolak perjualbelian manusia, pelecehan seksual, perang senjata, kemiskinan dan polusi. Tahapan ini sangat penting khususnya dalam menyingkap moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam setiap agama karena setiap agama berusaha untuk melindungi atau membela haknya.
Dialog agama, yang mana para pemuka agama atau pakarnya saling bertemu untuk bertukar pendapat dengan metode yang tepat tentang kepercayaan agama mereka. Dengan saling menghormati satu sama lain.
Apa pendapat anda mengenai hambatan dan keterbelakangan dalam membentuk peradaban. Apakah semua itu diperlukan pengetahuan terhadap kasus-kasus dan problematika internal, dan perkembangan sejarah peradaban dunia Arab dan Islam, dan mengaitkannya dengan kepentingan agama, budaya, ekonomi, politik dengan ketentuan yang berlaku saat ini?
Saya kira keluarnya para pemikir Arab dari kekangan, emosional dan keadaan psikologis keluarga, menuntut kita saat ini dengan revolusi komunikasi universal. Pengkaderan para pemuda ikut berpartisipasi merevitalisasi peradaban dengan kemauan sebagai syarat utama, dan membekali mereka dengan pengetahuan mendalam akan diri dan pengetahuan untuk mengakses pondasi dan prinsip-prinsip intelektual, filsafat, agama, politik, dan ekonomi, Karena pijakan menuju langkah ke depan merupakan keseimbangan kemaslahatan yang berhubungan dengan intelektual dan peradaban lain, yang menuntut dasar kemampuan pengetahuan komponen diri, dan kemampuan menanamkan keotentikan nilainya, yang tidak dapat terpengaruh oleh situasi peristiwa.
Mungkin kita dapat bekerja melalui kebijakan dan kepentingan dan membangun pusat-pusat pendidikan dalam rangka mencari agenda budaya, dan mempersiapkan strategi ke depan yang efektif dalam rangka mengeksplorasi wacana dunia Islam kontemporer untuk peradaban kita yang berinteraksi dengan realitas agama, budaya, kepercayaan yang bertentangan dengan arus dunia?
Ini semua pertanyaan yang kita miliki untuk dipikirkan secara dalam dan detail guna membangun dialog masa depan untuk peradaban kita dengan pondasi agama dan perjalanan sejarah, tidak dikaitkan dengan polemik dan peristiwa yang ada, mengakhiri kekerasan dan kembali menerima dengan terbuka pemahaman peradaban silam dan dialog agama harus kita bina, karena kita diperintahkan “wahai ahli kitab kemarilah” dan menerapkan metode dialog Al-Quran “Ajaklah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan mauidoh hasanah dan berdebatlah dengan cara terbaik” yang mana disyaratkan dialog dengan akal dan pikiran, bukan dengan emosi dan menyandarkan hukum terhadap prasangka, aksi dan reaksi.
Pada akhirnya permasalahan terarah untuk membentuk kesatuan pikiran, dan menguatkan identitas agama dan budaya kita, dan mengangkat sejarah serta peradaban kita. Dan memperbaiki konflik-konflik serta tantangan- tantangan yang kita hadapi untuk memberi pencerahan di masa depan yang mengangkat keberadaan kita, sebagai jati diri dan afiliasi dalam perubahan dunia dibekali dengan revolusi komunikasi, dan informasi untuk menuju pada keterbukaan dan interaksi budaya.
Diterjemahkan oleh Dewi Anggraeni (mahasiswi S2 Univ. Hassan Tsani, Casablanca-Maroko)
Berikut ini petikan wawancaranya dengan Abdul Haq bin Rahmun:
Bagaimana pendapat anda mengenai gambaran Islam di tengah-tengah revolusi dunia Arab?
Salah satu hasil utama revolusi Arab saat ini adalah kembalinya kontroversi dunia Internasional tentang Islam bukan sebagai agama akan tetapi sebagai pergerakan. Baik itu yang berhubungan dengan peranan yang memicu revolusi itu sendiri, atau pun masa depan politik dan pergerakan saat ini. Ada indikasi bahwa kekuatan Islam yang tumbuh dalam revolusi Arab mempengaruhi para sekuler, liberal secara internal dan Barat dalam tingkatan internasional yang berdampak kembalinya obsesi Islam phobia, kekhawatiran dan ketakutan sebagai hasil dari pada revolusi Arab, hal ini dijelaskan sebagian dari pada mereka dalam berbagai forum sebagai musuh demokrasi, perempuan, seni, kebebasan agama dan budaya.
Ada konflik intelektual antara agama dan ideologi, sementara Islam dijadikan sebagai target utama. Bagaimana umat Islam dapat memberikan peranan dalam berdialog dengan Barat tanpa fanatisme?
Saat ini Islam tentunya memainkan peranan yang dominan dalam perdebatan politis, kontroversi dalam ruang lingkup ideologi sejarah dan konflik agama dengan pihak-pihak yang berbeda. Baik itu di dalam maupun di luar daerah. Kontroversi antara skeptisme dan intimidasi menimbulkan kritikan terhadap kebijakan ajaran Islam untuk “mengkritik prinsip-prinsip agama secara global”dengan mengadopsi kebijakan yang inklusif dan menggapai pemberdayaan antara kontroversi ideologi.
Terdapat pertanyaan, bagaimana mungkin peradaban dikatakan sebagai produk budaya Islam yang jauh dari aksi dan reaksi yang terlahir dari fanatisme yang berkembang dalam corak fikir orang Barat. Dalam tahapan ini kita dituntut untuk mengaktifkan kembali segala komponen dialog peradaban yang seimbang, serta pemurnian mental masa depan dari keterbelakangan berlebihan yang mengasingkan mereka dari peranan kompetisi politik internal dan peradaban internasional. Hal tersebut dilakukan dengan mengambil jalan dialog yang mengedepankan pengetahuan, keilmuan, dan teknis, serta pengembangan sistem pendidikan dan pengajaran yang membentuk moral manusia, dan merencanakan program diplomasi organisasi dan sosial kemasyarakatan juga pengembangan media di tingkat regional maupun internasional. Disamping menjalin hubungan yang lebih erat antara pribadi dengan organisasi kebudayaan dan universitas-universitas di Barat dan Timur.
Baru-baru ini ada orang yang mencoba mendistorsi Islam dan mencorengnya, tetapi dunia Arab dan Islam dengan tergesa membalasnya dengan kekerasan dan pertumpahan darah seperti yang baru-baru ini terjadi di Libya, yang menyebabkan terbunuhnya duta besar Amerika. Bagaimana pendapat anda tantang perilaku seperti itu yang menyebabkan bencana dan kedengkian?
Saat ini ketika orang Barat melihat kita, bahwasanya Muslim adalah orang terbelakang, barbar, dungu, biadab dan teroris. Itu memang tanggapan yang kita prediksikan, sementara sebagian dari kita terlihat melakukan kekerasan di jalan-jalan. Bahkan aksi tersebut sudah sampai kepada pembunuhan orang-orang tidak bersalah seperti yang terjadi di Libya dan membakar instansi- instansi pemerintah dan kedutaan. Dalam Islam kita memiliki keyakinan “bahwa setiap orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” seperti halnya kita menolak penghakiman universal terhadap seluruh umat Islam setelah peristiwa 11 September. Dan penetapan mereka terhadap kita akan perbuatan yang tidak dilakukan oleh kita. Sebagaimana diri kita sendiri tidak akan dapat menghakimi seluruh orang yang melakukan penyimpangan di rumahnya sendiri. Akan tetapi, kita kembalikan urusannya kepada hukum pidana yang berlaku. Saya mengira bahwa kekerasan dan tindakan emosional akan dapat menyeret kita ke masa depan yang penuh dengan peperangan antar agama, keyakinan, madzhab dan golongan. Sebagaimana yang baru-baru ini dirasakan orang Islam di Burma dengan Budha, sampai batasan membunuh manusia hidup-hidup yang disandarkan pada agama dan sekte. Nah, apakah kita akan ikut bergerak dalam proyek pembuatan film dan menyalakan sumbu perpecahan antara Koptik dan Muslim yang hidup damai di Mesir, dengan alasan mereka berkontribusi dalam pembuatan film!!!
Kita dalam ajaran Islam yang jauh dari kepentingan tertentu selalu ikut perintah Tuhan kepada kita”katakan wahai ahli kitab marilah kita berpegang teguh kepada satu kalimat” yang dimulai dengan ajakan terhadap agama dan mengadakan dialog yang jauh dari perpecahan dan kekerasan. Saat ini, bahkan lebih dari sebelumnya, kita sangat perlu dengan dialog antar agama dan budaya untuk memperbaiki kembali dialog antara agama dan kebudayaan yang pernah terjadi, untuk mengembalikan apa yang hilang dari kedua belah pihak. Orang lain bukanlah satu-satunya dan tidak absolut, melainkan juga memiliki keberagaman, kontroversi, juga persilangan pendapat. Mereka juga memiliki orang-orang cendekia yang melakukan dialog dengan cendekiawan kita. Mereka juga memiliki orang-orang dungu dan fanatik, yang kadang selalu bertabrakan dengan yang sama-sama dungu dari semua penjuru dunia.
Apakah landasan Islam terhadap dialog agama, pentingnya dialog serta tujuannya? Yang dianggap sebagai asas untuk bertukar pengetahuan mendalam yang menjadikan kritikan yang membangun, jauh dari menjatuhkan dan menghina-hina. Sehingga dialog dan kritik bisa saling melengkapi bukan malah menimbulkan pertentangan?
Dalam konteks ini kita harus menentukan sikap kita akan dialog dan menyesuaikan dengan metode yang diajarkan Islam, tidak melalui perubahan situasi politik untuk mendeklarasikan penolakan atau penerimaan terhadap tekanan global. Dengan kata lain apakah kita berdialog dengan yang lain sesuai dengan metode yang diajarkan Islam yang bersandarkan asas-asas dialog antara agama secara teoritis dan praktis, dan mengetahui perbedaan kebudayaan dan pengetahuan tentang berbagai peradaban, atau kita berdialog dengan menjustifikasi lawan kita ketika mereka tidak sejalan dengan kita dan memprovokasinya?
Saya telah membahas topik ini secara terperinci dalam buku saya yang berjudul “Dialetika Dialog: Wacana Islam Kontemporer” sebagai upaya menjalin dialog antara penganut agama Islam dengan yang lainnya dengan cara yang benar. Yang disandarkan kepada konteks Al-Quran dan Hadits yang jauh dari unsur politik dan propaganda yang menjadikan dialog agama sebagai tujuan massa tertentu. Saya jelaskan di dalam buku saya tentang anjuran dialog sebagaimana yang ada dalam ajaran Islam dialog antara agama dan budaya. Dari realitas sejarah, saya menyaksikan akan lembaran yang begitu indah tentang peradaban kehidupan kita dengan non Muslim, jauh dari manipulasi dan kepentingan budaya Barat yang mana dialog dijadikan bagian dari agenda mereka.
Saya jelaskan dan saya tegaskan dalam buku saya bahwa pandangan terhadap fakta tatanan dunia saat ini, visi dan misi ke depannya sampai kepada keraguan akan kemampuan untuk berhasil berdasarkan berbagai konferensi terhadap dialog agama. Kerja sama internasional merupakan salah satu solusi terhadap problematika kita saat ini.
Terdapat berbagai sebab ketegangan terhadap aturan atau tatanan yang ada ialah karena kesombongan etnis, fanatisme agama yang merupakan hasil dari ketidaktahuan akan agama, budaya dan peradaban lain, dan dibalik semua itu menyebabkan krisis yang harus diatasi dengan dialog, saling mengenal, dan adanya akulturasi, sehingga jauh dari pada pemberangusan dan pengingkaran terhadap yang lain, dan tidak mau menerima perbedaan budaya yang ada. Salah satu solusinya yakni dengan berdialog secara terbuka dan dengan kemitraan, dengan demikian akan membentuk manusia dengan peradaban.
Islam dijadikan sebagai target pelecehan sebagai mana yang terjadi belakangan ini melalui film Amerika Kebebasan Islam dan kartun dalam majalah Perancis, Sebagaimana yang telah terjadi masa lalu terdapat pelecehan terhadap Islam dalam sebagian buku-buku sastra bahkan ada yang menawarkan untuk membakar Al Quran, jadi langkah apa yang paling tepat untuk menanggapi penghinaan tersebut dengan cara membangun peradaban?
Lebih tepat untuk para pengacara Muslim di Barat dan para pemikir untuk mengangkat masalah ini melalui jalan hukum, para wartawan dengan media, penulis dengan bukunya, dan perfilman dengan produksi, mereka bersama-sama meminta maaf terhadap apa yang menyakiti jutaan umat Islam, dan jaminan perlindungan akan keamanan jiwa serta kebebasan beragama milyaran umat Islam, perkara ini ketika diselesaikan dengan jalur hukum, mendorong opini umum untuk mengikuti perkembangan kasus dan penyebabnya, khususnya saat ini dengan berbagai media informasi mengajak kepada penyelesaian masalah fanatik agama dan ajakan kepada perdamaian dengan perjanjian dan menepiskan hal-hal yang berbau pelecehan agama dan menghormati para penganut agama samawi.
Saya fikir dengan cara ini akan dapat memberikan kekuatan bagi umat Islam dalam keyakinan dan perlindungan agama mereka, saat ini kita dalam kondisi dua pilihan, menuntut balik dengan kekerasan dan menyukseskan proyek orang-orang yang fanatik di Barat. Tentu hal ini akan sangat membahayakan terhadap agama kita, atau mencari langkah yang efektif dengan membantah apa yang dituduhkan golongan fanatik di Barat, dan memberikan pemahaman kepada para cendekia akan kesantunan agama ini, menepiskan praduga mereka untuk memproduksi sebuah film untuk skala internasional, dan ini mengarah kepada capaian masa depan untuk dunia Islam dalam peradaban umat, dengan logika berfikir yang benar, dengan adanya timbal balik kemaslahatan kita dalam media-media elektronik dan komunikasi dunia internasional.
Dialetika dialog wacana Islam kontemporer yang merupakan ruang lingkup anda dalam dunia akademik itu, apa konteks, syarat dan metode dalam dialog antara agama?
Ajakan terhadap dialog antara agama, dari orang Islam sangat erat kaitannya dengan pertukaran antar wacana. Dialog dan kritik dalam membentuk wacana masa depan dunia Islam kontemporer, berawal dari pertanyaan apakah definisi dan batasan dalam pembentukan wacana yang realistis dan efektifitasnya dalam pemikiran Islam kontemporer?
Pertama harus dengan membedakan antara tiga tahapan dialog antara pengikut agama yang berbeda, yaitu gesekan yang ada dalam kehidupan sehari-hari, pertemuan dalam kesempatan-kesempatan atau kepentingan bersama, dan wacana yang mengarah kepada kesulitan tiap golongan. Bukan berarti segala gesekan, pertemuan atau wacana antara umat Islam tentang agama yang berbeda termasuk dialog antara agama, terkadang gesekan akan menghasilkan bentrokan, terkadang pertemuan menyebabkan pada penolakan, dan wacana kadang berdampak pada kesalahpahaman jika ketiga syarat dan rukun dialog itu sendiri tidak terpenuhi, yakni:
Dialog kehidupan, apa yang ada dalam realitas saat ini bahwa agama bermacam-macam, yang dibangun atas pondasi kehidupan bersama dalam masyarakat yang didalamnya terdapat syarat- syarat tertentu yang memberikan aturan pertemuan antara orang Islam.
Dialog kemanusiaan, yakni dengan menanamkan nilai moralitas antara umat beragama untuk menggapai keadilan sosial dan mengangkat hak asasi manusia dan menolak perjualbelian manusia, pelecehan seksual, perang senjata, kemiskinan dan polusi. Tahapan ini sangat penting khususnya dalam menyingkap moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam setiap agama karena setiap agama berusaha untuk melindungi atau membela haknya.
Dialog agama, yang mana para pemuka agama atau pakarnya saling bertemu untuk bertukar pendapat dengan metode yang tepat tentang kepercayaan agama mereka. Dengan saling menghormati satu sama lain.
Apa pendapat anda mengenai hambatan dan keterbelakangan dalam membentuk peradaban. Apakah semua itu diperlukan pengetahuan terhadap kasus-kasus dan problematika internal, dan perkembangan sejarah peradaban dunia Arab dan Islam, dan mengaitkannya dengan kepentingan agama, budaya, ekonomi, politik dengan ketentuan yang berlaku saat ini?
Saya kira keluarnya para pemikir Arab dari kekangan, emosional dan keadaan psikologis keluarga, menuntut kita saat ini dengan revolusi komunikasi universal. Pengkaderan para pemuda ikut berpartisipasi merevitalisasi peradaban dengan kemauan sebagai syarat utama, dan membekali mereka dengan pengetahuan mendalam akan diri dan pengetahuan untuk mengakses pondasi dan prinsip-prinsip intelektual, filsafat, agama, politik, dan ekonomi, Karena pijakan menuju langkah ke depan merupakan keseimbangan kemaslahatan yang berhubungan dengan intelektual dan peradaban lain, yang menuntut dasar kemampuan pengetahuan komponen diri, dan kemampuan menanamkan keotentikan nilainya, yang tidak dapat terpengaruh oleh situasi peristiwa.
Mungkin kita dapat bekerja melalui kebijakan dan kepentingan dan membangun pusat-pusat pendidikan dalam rangka mencari agenda budaya, dan mempersiapkan strategi ke depan yang efektif dalam rangka mengeksplorasi wacana dunia Islam kontemporer untuk peradaban kita yang berinteraksi dengan realitas agama, budaya, kepercayaan yang bertentangan dengan arus dunia?
Ini semua pertanyaan yang kita miliki untuk dipikirkan secara dalam dan detail guna membangun dialog masa depan untuk peradaban kita dengan pondasi agama dan perjalanan sejarah, tidak dikaitkan dengan polemik dan peristiwa yang ada, mengakhiri kekerasan dan kembali menerima dengan terbuka pemahaman peradaban silam dan dialog agama harus kita bina, karena kita diperintahkan “wahai ahli kitab kemarilah” dan menerapkan metode dialog Al-Quran “Ajaklah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan mauidoh hasanah dan berdebatlah dengan cara terbaik” yang mana disyaratkan dialog dengan akal dan pikiran, bukan dengan emosi dan menyandarkan hukum terhadap prasangka, aksi dan reaksi.
Pada akhirnya permasalahan terarah untuk membentuk kesatuan pikiran, dan menguatkan identitas agama dan budaya kita, dan mengangkat sejarah serta peradaban kita. Dan memperbaiki konflik-konflik serta tantangan- tantangan yang kita hadapi untuk memberi pencerahan di masa depan yang mengangkat keberadaan kita, sebagai jati diri dan afiliasi dalam perubahan dunia dibekali dengan revolusi komunikasi, dan informasi untuk menuju pada keterbukaan dan interaksi budaya.
Diterjemahkan oleh Dewi Anggraeni (mahasiswi S2 Univ. Hassan Tsani, Casablanca-Maroko)
Label:
Holaqoh
01.32
Watak Asli Pesantren itu Mandiri
Sejak bulan Maret lalu Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) atau asosiasi pesantren NU bergiat melatih kewirausahaan di sejumlah pesantren di Indonesia.
Kegiatan ini merupakan bagian dari semangat membangkitkan kemandirian ekonomi di kalangan santri, selain mengkader mereka menjadi insan berakhlak yang mengerti ilmu agama. Bagaimana pesantren menghadapi etos kewirausahaan ini? Apa potensi dan tantangannya?
Kegiatan ini merupakan bagian dari semangat membangkitkan kemandirian ekonomi di kalangan santri, selain mengkader mereka menjadi insan berakhlak yang mengerti ilmu agama. Bagaimana pesantren menghadapi etos kewirausahaan ini? Apa potensi dan tantangannya?
Berikut wawancara Mahbib Khoiron dari NU Online dengan Ketua Pengurus Pusat RMI NU Amin Haedari di Jakarta beberapa waktu lalu.
Bagaimana hubungan pesantren dengan etos kewirausahaan?
Sebenarnya, watak asli pesantren itu ya mandiri, penuh dengan kewirausahaan, penuh dengan entrepreneurship. Jadi persoalan entrepreneurship, persoalan kewirausahaan di pesantren itu bukan hal yang baru. Memang sejak awal pesantren itu sebagai lembaga wirausaha, lembaga entrepreneurship. Dulu beberapa lembaga pesantren di beberapa daerah, di situ ada pesantren kemudian kiainya punya lahan, secara tidak langsung pesantrennya ikut terjun ke kebun, ikut ke kebon, ikut menanam tanaman.
Itu cara kiai mendidik para santrinya. Jadi saat mereka kembali masyarakat, mereka bisa berkebun, bisa bertani, berternak, dan sebagainya. Itu karena kiainya punya lahan.
Saya masih ingat waktu kecil dulu, santri-santri itu pergi ke sawah, nanem; ada kolam, kemudian santri ternak ikan, jadi ketika mereka kembali ke masyarakat dia bisa nanem polowijo, bisa ternak ikan.
Jadi memang aslinya pesantren itu ya tempat entrepreneur, wirausaha. Terus entah kenapa sekarang kok jadi berubah. Padahal kalau kembali ke aslinya pesantren itu ya entrepreneur. Santri-santrinya kan jarang dulu yang pegawai negeri. Kiainya pun juga tekun di situ: ngaji, dia punya lahan. Bahkan awal Islam masuk ke Indonesia kemudian berdiri pesantren-pesantren itu juga perdagangan di wilayah-wilayah pantai, itu juga usaha semua.
Kenapa berubah?
Sekarang ini pesantren kan makin banyak. Kalau dulu pesantren punya lahan banyak, sekarang karena keluargannya juga banyak akhirnya dibagi-bagi. Yang dulunya tempat pertanian sekarang sudah tidak ada lagi. Tidak mampu lagi bertani. Sudah berubah. Tapi sebetulnya, sekarang masih bisa karena entrepreneur itu bukan hanya di bidang pertanian saja.
Di bidang ketrampilan-ketrampilan lain masih sangat terbuka. Seperti bidang industri, ketrampilan di bidang mesin, pengelasan atau ketrampilan lain yang tidak memerlukan lahan luas, itu bisa sekarang. Karena sekarang ini kan kegiatan-kegiatan tidak mesti memiliki lahan yang luas, jadi sekarang harus diupayakan berubah. Mungkin industri jasa, bisa juga. Pertanian pun sekarang kalau menggunakan teknologi tinggi bisa juga; pertanian hidroponik, umpamanya, bisa di lapis-lapis tanah itu, tidak memerlukan tanah yang luas, teknologi semakin caggih. Pesantren harus mengikuti perkembangan-perkembangan seperti itu.
Potensi yang membangkitkan kewirausahaan pesantren itu apa?
Nah, potensi itu ada tiga. Pertama, kita potensi sosial. Bahwa pesantren itu punya masyarakat, punya penggemar, punya umat, punya jamaah, punya santri, sekaligus itu dapat dijadikan pelanggan. Itu potensi sosial yang luar biasa. Perusahaan-perusahaan itu kan bagaimana cara menarik customer sebanyak-banyaknya, nah pesantren udah punya itu. Bagiamana memanfaatkan jamaah, memanfaatkan alumni, memanfaatkan masyarakat. Yang kedua, pesantren mempunyai peluang di bidang ketrampilan. Ketrampilan itu harus ada. Ketrampilan itu yang harus ditingkatkan. Kalau potensi sosialnya sudah ada, potensi ketrampilannya sudah ada maka akan semakin mudah.
Dan yang ketiga, potensi yang datang dari luar. Ini menyangkut dengan modal. Tapi kalau di situ sudah ada ketrampilan, terutama SDM (sumber daya manusia)-nya, potensi sosialnya juga ada, maka otomatis ada yang mau memberikan modal ke situ. Ketiga-tiganya itu harus dikuasai, dan pesantren sudah punya itu. Paling tidak dua dari tiga ini. Nah, bagaimana kita menggait modal untuk membantu ekonomi pesantren. Ada macam-macam itu: ada yang bisa berbentuk hibah, potensi zakat potensi infaq, atau bisa kerjasama.
Yang sudah dilakukan RMI?
Kita sudah banyak melakukan sesuatu. Kalau di bidang entrepreneurship itu kita kerjasama dengan—baru-baru ini—Bank Mandiri untuk pengembangan usaha di lingkungan pondok-pondok pensantren, mulai dari pemodalannya, pelatihannya, tempat usahanya. Kemudian dengan Kementerian Agama juga sama, memberi pelatihan, pemodalan. Tapi lagi-lagi, yang harus ditingkatkan adalah potensi SDM dan ketrampilan di pondok-pondok pesantren. Karena kalau tidak ditingkatkan SDM dan ketrampilannya, seberapapun modal yang diberikan maka akan hilang dengan sendirinya. Karena soal permodalan, kalau pesantren itu sudah trampil, SDM-nya sudah kuat, potensi sosialnya juga sudah kuat, otomatis modal itu akan datang dengan sendrinya.
Apa tantangan pesantren untuk bangkit di dunia wirusaha?
Tantangannya lebih banyak pada mentalitas. Mentalitas entrepreneur harus terus ditingkatkan. Semangat untuk berjuang, semangat untuk melakukan kompetisi, itu yang harus ditingkatkan. Pesantren kan “tawadhu” itu, padahal kalau entrepreneur harus fight betul, siap bertarung, siap kompetisi. Mental semacam ini yang harus digerakkan. Kalau terlalu “tawadhu” juga kurang bagus di bidang wirausaha. Jadi tantangannya, kesiapan mental itu.
Yang kedua, perilaku-perilaku yang sekarang ini terkontaminasi denga sesuatu yang instan, pengen langsung jadi, lebih senang mendapatkan uang dengan menjadi jurkam saja daripada harus mikir-mikir pening. Ini kan kurang bagus karena akan menimbulkan kesulitan, ketika disodorkan bantuan usaha dan bantuan lokal, orang itu lebih senang memiliki bantuan lokal. Karena kalau bantuan usaha, orang itu harus mikir, harus kerja. Padahal dengan bantuan usaha ini mereka akan dapat membangun lokal. Jadi memang ada mental-mental yang ingin instan aja lah.
Bagaimana dengan ajaran pesantren selama ini?
Kita memang mesti terus melakukan sosialisasi, kemudian pelatihan-pelatihan, kemudian kita harus tidak mengesampingkan pihak-pihak luar bahwa sebetulnya Islam itu yang melatih kita harus sungguh-sungguh, bekerja keras. Semangat man jadda wajada kan di situ. Banyak juga base practice, Ibnu Hajar al-Asqalani dulu juga kan giat karena terinspirasi degan air yang menetes ke batu. Batunya keras, namun dengan tetesan terus-menerus akhirnya berlobang.
Jadi di situ kita tak boleh lelah untuk terus melakukan pembinaan-pembinaan, sehingga akan menggugah tingkat kesadaran mereka bahwa berwirausaha itu ya harus kerja keras. Memang nggak bisa satu dua kali bertemu lalu jadi entrepreneur. Itu nggak bisa. Itu harus berkali-kali sampai pada titik dia sadar betul. Samalah, di agama juga tidak serta-merta langsung sadar. Memang harus ada pembiasaan. Pembiasaan ini lah yang harus dilakukan oleh RMI dan segenap komponen NU, karena RMI tidak bekerja sendirian, masih ada lembaga pertanian (LPPNU, red), lembaga perekonomian (LPNU, red), ini kalau bersama-sama akan lebih bagus. Ada singkronisasi.
Selain di bidang wirausaha apa lagi yang dilakukan RMI?
Bagaimana hubungan pesantren dengan etos kewirausahaan?
Sebenarnya, watak asli pesantren itu ya mandiri, penuh dengan kewirausahaan, penuh dengan entrepreneurship. Jadi persoalan entrepreneurship, persoalan kewirausahaan di pesantren itu bukan hal yang baru. Memang sejak awal pesantren itu sebagai lembaga wirausaha, lembaga entrepreneurship. Dulu beberapa lembaga pesantren di beberapa daerah, di situ ada pesantren kemudian kiainya punya lahan, secara tidak langsung pesantrennya ikut terjun ke kebun, ikut ke kebon, ikut menanam tanaman.
Itu cara kiai mendidik para santrinya. Jadi saat mereka kembali masyarakat, mereka bisa berkebun, bisa bertani, berternak, dan sebagainya. Itu karena kiainya punya lahan.
Saya masih ingat waktu kecil dulu, santri-santri itu pergi ke sawah, nanem; ada kolam, kemudian santri ternak ikan, jadi ketika mereka kembali ke masyarakat dia bisa nanem polowijo, bisa ternak ikan.
Jadi memang aslinya pesantren itu ya tempat entrepreneur, wirausaha. Terus entah kenapa sekarang kok jadi berubah. Padahal kalau kembali ke aslinya pesantren itu ya entrepreneur. Santri-santrinya kan jarang dulu yang pegawai negeri. Kiainya pun juga tekun di situ: ngaji, dia punya lahan. Bahkan awal Islam masuk ke Indonesia kemudian berdiri pesantren-pesantren itu juga perdagangan di wilayah-wilayah pantai, itu juga usaha semua.
Kenapa berubah?
Sekarang ini pesantren kan makin banyak. Kalau dulu pesantren punya lahan banyak, sekarang karena keluargannya juga banyak akhirnya dibagi-bagi. Yang dulunya tempat pertanian sekarang sudah tidak ada lagi. Tidak mampu lagi bertani. Sudah berubah. Tapi sebetulnya, sekarang masih bisa karena entrepreneur itu bukan hanya di bidang pertanian saja.
Di bidang ketrampilan-ketrampilan lain masih sangat terbuka. Seperti bidang industri, ketrampilan di bidang mesin, pengelasan atau ketrampilan lain yang tidak memerlukan lahan luas, itu bisa sekarang. Karena sekarang ini kan kegiatan-kegiatan tidak mesti memiliki lahan yang luas, jadi sekarang harus diupayakan berubah. Mungkin industri jasa, bisa juga. Pertanian pun sekarang kalau menggunakan teknologi tinggi bisa juga; pertanian hidroponik, umpamanya, bisa di lapis-lapis tanah itu, tidak memerlukan tanah yang luas, teknologi semakin caggih. Pesantren harus mengikuti perkembangan-perkembangan seperti itu.
Potensi yang membangkitkan kewirausahaan pesantren itu apa?
Nah, potensi itu ada tiga. Pertama, kita potensi sosial. Bahwa pesantren itu punya masyarakat, punya penggemar, punya umat, punya jamaah, punya santri, sekaligus itu dapat dijadikan pelanggan. Itu potensi sosial yang luar biasa. Perusahaan-perusahaan itu kan bagaimana cara menarik customer sebanyak-banyaknya, nah pesantren udah punya itu. Bagiamana memanfaatkan jamaah, memanfaatkan alumni, memanfaatkan masyarakat. Yang kedua, pesantren mempunyai peluang di bidang ketrampilan. Ketrampilan itu harus ada. Ketrampilan itu yang harus ditingkatkan. Kalau potensi sosialnya sudah ada, potensi ketrampilannya sudah ada maka akan semakin mudah.
Dan yang ketiga, potensi yang datang dari luar. Ini menyangkut dengan modal. Tapi kalau di situ sudah ada ketrampilan, terutama SDM (sumber daya manusia)-nya, potensi sosialnya juga ada, maka otomatis ada yang mau memberikan modal ke situ. Ketiga-tiganya itu harus dikuasai, dan pesantren sudah punya itu. Paling tidak dua dari tiga ini. Nah, bagaimana kita menggait modal untuk membantu ekonomi pesantren. Ada macam-macam itu: ada yang bisa berbentuk hibah, potensi zakat potensi infaq, atau bisa kerjasama.
Yang sudah dilakukan RMI?
Kita sudah banyak melakukan sesuatu. Kalau di bidang entrepreneurship itu kita kerjasama dengan—baru-baru ini—Bank Mandiri untuk pengembangan usaha di lingkungan pondok-pondok pensantren, mulai dari pemodalannya, pelatihannya, tempat usahanya. Kemudian dengan Kementerian Agama juga sama, memberi pelatihan, pemodalan. Tapi lagi-lagi, yang harus ditingkatkan adalah potensi SDM dan ketrampilan di pondok-pondok pesantren. Karena kalau tidak ditingkatkan SDM dan ketrampilannya, seberapapun modal yang diberikan maka akan hilang dengan sendirinya. Karena soal permodalan, kalau pesantren itu sudah trampil, SDM-nya sudah kuat, potensi sosialnya juga sudah kuat, otomatis modal itu akan datang dengan sendrinya.
Apa tantangan pesantren untuk bangkit di dunia wirusaha?
Tantangannya lebih banyak pada mentalitas. Mentalitas entrepreneur harus terus ditingkatkan. Semangat untuk berjuang, semangat untuk melakukan kompetisi, itu yang harus ditingkatkan. Pesantren kan “tawadhu” itu, padahal kalau entrepreneur harus fight betul, siap bertarung, siap kompetisi. Mental semacam ini yang harus digerakkan. Kalau terlalu “tawadhu” juga kurang bagus di bidang wirausaha. Jadi tantangannya, kesiapan mental itu.
Yang kedua, perilaku-perilaku yang sekarang ini terkontaminasi denga sesuatu yang instan, pengen langsung jadi, lebih senang mendapatkan uang dengan menjadi jurkam saja daripada harus mikir-mikir pening. Ini kan kurang bagus karena akan menimbulkan kesulitan, ketika disodorkan bantuan usaha dan bantuan lokal, orang itu lebih senang memiliki bantuan lokal. Karena kalau bantuan usaha, orang itu harus mikir, harus kerja. Padahal dengan bantuan usaha ini mereka akan dapat membangun lokal. Jadi memang ada mental-mental yang ingin instan aja lah.
Bagaimana dengan ajaran pesantren selama ini?
Kita memang mesti terus melakukan sosialisasi, kemudian pelatihan-pelatihan, kemudian kita harus tidak mengesampingkan pihak-pihak luar bahwa sebetulnya Islam itu yang melatih kita harus sungguh-sungguh, bekerja keras. Semangat man jadda wajada kan di situ. Banyak juga base practice, Ibnu Hajar al-Asqalani dulu juga kan giat karena terinspirasi degan air yang menetes ke batu. Batunya keras, namun dengan tetesan terus-menerus akhirnya berlobang.
Jadi di situ kita tak boleh lelah untuk terus melakukan pembinaan-pembinaan, sehingga akan menggugah tingkat kesadaran mereka bahwa berwirausaha itu ya harus kerja keras. Memang nggak bisa satu dua kali bertemu lalu jadi entrepreneur. Itu nggak bisa. Itu harus berkali-kali sampai pada titik dia sadar betul. Samalah, di agama juga tidak serta-merta langsung sadar. Memang harus ada pembiasaan. Pembiasaan ini lah yang harus dilakukan oleh RMI dan segenap komponen NU, karena RMI tidak bekerja sendirian, masih ada lembaga pertanian (LPPNU, red), lembaga perekonomian (LPNU, red), ini kalau bersama-sama akan lebih bagus. Ada singkronisasi.
Selain di bidang wirausaha apa lagi yang dilakukan RMI?
Kita ini masuk di ranah yang kira-kira membantu pesantren. Kalau persoalan pengajian, itu urusan pesantren, persoalan-persoalan kaderisasi masuk di situ, yang mana pesantren terbatas di bidang itu.
Jadi RMI tidak ngajarin ngaji, tapi di bidang lain, di bidang sosial, di bidang ekonomi. Tapi ekonomi lebih banyak daripada sosial. Pemberdayaan santri, tapi lebih banyak ke ekonominya. Karena intinya di situ, kalau pesantren sudah kuat ekonominya akan berkembang, kalau ekonominya lemah, ya susah.
Jadi RMI tidak ngajarin ngaji, tapi di bidang lain, di bidang sosial, di bidang ekonomi. Tapi ekonomi lebih banyak daripada sosial. Pemberdayaan santri, tapi lebih banyak ke ekonominya. Karena intinya di situ, kalau pesantren sudah kuat ekonominya akan berkembang, kalau ekonominya lemah, ya susah.
Label:
Holaqoh
01.30
Pesantren Kaliopak, Pancarkan Rahmat Tuhan dengan Kesenian
Di timur kota Jogjakarta yang hingar bingar, ada pesantren yang tidak biasa. Pesantren Kaliopak, namanya. Menjadi tidak biasa karena pesantren tersebut mengidentivikasi dirinya sebagai pesantren kebudayaan.
Seperti yang tertulis dalam profilnya di jejaring sosial Facebook, pesantren tersebut berusaha memadukan kreativitas kesenian, ekonomi kerakyatan, dan religiusitas dalam kerja pendidikan dan kemasyarakatan. Di sana, Islam ditampilkan dengan gembira lewat macam-macam pagelaran seni. "Seni membuat sentuhan surgawi dalam kehidupan kita, agar lebih menyala-nyala dalam rahmat-Nya," kata Faisal Kamandobat, salah seorang guru di pesantren tersebut.
Faisal yang terkenal sebagai penyair itu mengaku baru terlibat dengan Pesantren Kaliopak tiga tahun terakhir, tapi dengan pimpinan pesantren, M. Jadul Maula, sudah kenal lama. Kepada Hamzah Sahal dari NU Online, Faisal bercerita banya ihwal Kaliopak, lewat telepon, seusai pertunjukan Wayang Suket yang didalangi Slamet Gundono, di pesantren itu, Kamis (8/11) malam.
Kenapa Pesantren Kaliopak rutin adakan pertunjukan seni?
karena kesenian memberi kebahagiaan bagi masyarakat yang sedang ditimpa berbagai persoalan, seperti kemiskinan dan kesehatan. Kesenian juga memperdalam makna dalam menghayati kehidupan di tengah arus pendangkalan kehidupan karena inflasi informasi dan ekonomisasi di segala aspek kehidupan.
Dan terakhir, kesenian memberi kerangka imajinatif untuk merevaluasi dan merevitalisasi nilai ketika sejarah terasa membeku, sehingga menemukan vitalitas dan relevansinya kembali.
Itulah kenapa pesantren Kaliopak menggelar kegiatan-kegiatan kesenian. Lebih dari itu dulu para sunan juga menyebarkan rahmat Tuhan melalui kesenian, suatu hal yang perlu dilakukan lagi untuk menyegarkan dan memberi sentuhan estetis terhadap pendekatan syari'ah yang dominan di pesantren-pesantren.
Kesenian macam apa yang ideal untuk pesantren?
Kami menyelenggarakan acara-acara kesenian, mulai sastra, seni rupa, sampai pertunjukan, baik tradisional ataupun moderen. Belakangan seni tradisional seperti tarian Emprak dan wayang lebih sering dilakukan. Alasannya, seni tersebut lahir dari rahim sejarah sosial dan budaya kita, dengan makna dan medianya yang indah dan dalam.
Seni tradisional perlu dilestarikan secara kreatif dan luwes, agar tetap hidup dan relevan, untuk menjaga visi sejarah dan jati diri kita, sebagai cawan yang menampung segela kegelisahan dan gagasan dalam realitas yang kita diami.
Tidak ada kesenian tertentu yang menjadi "target"?
Pesantren Kaliopak tidak terlalu memikirkan aspek medium kesenian, tapi lebih pada isinya. Film, wayang, musik, lukisan, sastra, masuk semua. Yang penting kandungannya dapat merefleksikan realitas kemanusiaan secara jujur, kreatif, dan relatif mewakili kehidupan sosial kita.
Kenapa hari ini, secara umum, pesantren tampak over selektif terhadap kesenian dan komunitas-komunitas seni?
Harusnya pertanyaan itu disampaikan kepada para kiai dan gus daripada ke kami. Tapi seperti yang saya katakan tadi, karena ajaran pesantren, baik syariah ataupun tarekat, cendereung disampaikan secara formalistik, sehingga semakin kaku dan kurang menyenangkan. Padahal para ulama dahulu bisa diterima dengan cepat karena menyampaikan gagasannya dengan indah melalui syair.
Mari kita pancarkan cahaya rahmat Islam dengan cara yang indah dan imajinatif, agar melunakkan hati yang keras dan menghangatkan hati yang dingin. Seni adalah jalan terbaik untuk itu. Bukankah Al-Qur'an bukan kita hukum saja, tapi juga kitab sastra yang maha indah?
Jadi mari berkesenian. Karena seni membuat sentuhan surgawi dalam kehidupan kita, agar lebih menyala-nyala dalam rahmat-Nya.
Ada pendapat seni tertentu, alat musik tertentu harus dihindari karena bisa melalaikan Allah, bahkan ada ulama yang melarang baca seni Al-Qur'an. Apa pendapat Anda?
Karya seni tidak mengenal dosa, karena tidak bisa dihukumi. Yang terkena hukum itu manusianya. Betul kan?
Kalau musik, sastra, lukisan, drama, memang digunakan untuk lari dari Tuhan, maka akan sesat dengan sendirinya. Tapi kalau digunakan sebagai jalan menuju Tuhan, insya Allah akan sampai. Jadi tergantung kitalah, para senimannya, untuk apa kesenian itu.
Lihat saja, makna dan tujuan di balik karya seni, jangan hanya bendanya. Jangankan kesenian, negara dan agama saja, kalau digunakan untuk tujuan kekuasaan pribadi, akan membuat kita jauh dari Tuhan. Tapi, tembang suluk atau pop, jika ditujukan kepada Tuhan, akan terasa lebih spiritual dan relejius.
Apa yang Anda pikirkan tentang seni yang hari ini tumbuh di pesantren dan komunitas Islam, seperti sholawatan, hadroh, genjring, marawis, kaligrafi?
Kesenian yang telah hidup di pesantren dan masyakarat Islam secara luas tentu harus dijaga keberlangsungannya. Sambil dikembangkan secara kreatif agar tetap relevan dan semakin diterima oleh banyak penikmat, oleh masyakarat luas.
Bagaimana pula dengan arsitektur (yang ada di) pesantren, juga masjid dan langgar? Tampaknya seni bangunan banyak diabaikan di pesantren. Sekedar berkiblat pada fungsi dan tren saja.
Dunia arsitektur kita secara umum sedang ikut arus tren global, terutama gaya dan materinya. Tapi di level konseptual dan paradigma, ita belum mewarnai secara signifikan. Masih jauh bagi kita arsitektur berkelas seperti Nouval, Hadid, Koolhaas, atau Ando. Tapi mau bermain dengan mengeksplorasi gaya lokal juga belum ketemu yang bener-benar kuat, padahal itu sumber inspirasi yang luar biasa kaya. Nah, itu secara umum.
Pesantren arsitekturnya biasa, rada latah, atau malah kelewat sederhana. Wajar saja karena memang tidak diajarkan soal arsitektur. Lha yang diajar jadi arsitek saja kurang punya visi dan selara. Ini kita sedih.
Bagaimana dengan arsitektur pesantren Anda? Saya lihat ada pendopo Jawa, tapi bangunan lain bergaya poskolonial.
Perencanaan makro pesantren Kaliopak lebih untuk pengajian, pelatihan dan berkesenian. Jadi kami membuat banyak ruang yang luas dan terbuka. Gaya tradisional membuat pesantren terasa lebih homy bagi masyarakat Jogja, tapi kurang begitu kuat. Sedangkan yang moderen kurang homy, tapi lebih kuat karena materialnya. Tapi sejujurnya kami tidak punya desain secara keseluruhan. Semua berjalan begitu saja, sesuai usaha dan kata hati kami, di bawah ridlo Allah. Amin.
Seperti yang tertulis dalam profilnya di jejaring sosial Facebook, pesantren tersebut berusaha memadukan kreativitas kesenian, ekonomi kerakyatan, dan religiusitas dalam kerja pendidikan dan kemasyarakatan. Di sana, Islam ditampilkan dengan gembira lewat macam-macam pagelaran seni. "Seni membuat sentuhan surgawi dalam kehidupan kita, agar lebih menyala-nyala dalam rahmat-Nya," kata Faisal Kamandobat, salah seorang guru di pesantren tersebut.
Faisal yang terkenal sebagai penyair itu mengaku baru terlibat dengan Pesantren Kaliopak tiga tahun terakhir, tapi dengan pimpinan pesantren, M. Jadul Maula, sudah kenal lama. Kepada Hamzah Sahal dari NU Online, Faisal bercerita banya ihwal Kaliopak, lewat telepon, seusai pertunjukan Wayang Suket yang didalangi Slamet Gundono, di pesantren itu, Kamis (8/11) malam.
Kenapa Pesantren Kaliopak rutin adakan pertunjukan seni?
karena kesenian memberi kebahagiaan bagi masyarakat yang sedang ditimpa berbagai persoalan, seperti kemiskinan dan kesehatan. Kesenian juga memperdalam makna dalam menghayati kehidupan di tengah arus pendangkalan kehidupan karena inflasi informasi dan ekonomisasi di segala aspek kehidupan.
Dan terakhir, kesenian memberi kerangka imajinatif untuk merevaluasi dan merevitalisasi nilai ketika sejarah terasa membeku, sehingga menemukan vitalitas dan relevansinya kembali.
Itulah kenapa pesantren Kaliopak menggelar kegiatan-kegiatan kesenian. Lebih dari itu dulu para sunan juga menyebarkan rahmat Tuhan melalui kesenian, suatu hal yang perlu dilakukan lagi untuk menyegarkan dan memberi sentuhan estetis terhadap pendekatan syari'ah yang dominan di pesantren-pesantren.
Kesenian macam apa yang ideal untuk pesantren?
Kami menyelenggarakan acara-acara kesenian, mulai sastra, seni rupa, sampai pertunjukan, baik tradisional ataupun moderen. Belakangan seni tradisional seperti tarian Emprak dan wayang lebih sering dilakukan. Alasannya, seni tersebut lahir dari rahim sejarah sosial dan budaya kita, dengan makna dan medianya yang indah dan dalam.
Seni tradisional perlu dilestarikan secara kreatif dan luwes, agar tetap hidup dan relevan, untuk menjaga visi sejarah dan jati diri kita, sebagai cawan yang menampung segela kegelisahan dan gagasan dalam realitas yang kita diami.
Tidak ada kesenian tertentu yang menjadi "target"?
Pesantren Kaliopak tidak terlalu memikirkan aspek medium kesenian, tapi lebih pada isinya. Film, wayang, musik, lukisan, sastra, masuk semua. Yang penting kandungannya dapat merefleksikan realitas kemanusiaan secara jujur, kreatif, dan relatif mewakili kehidupan sosial kita.
Kenapa hari ini, secara umum, pesantren tampak over selektif terhadap kesenian dan komunitas-komunitas seni?
Harusnya pertanyaan itu disampaikan kepada para kiai dan gus daripada ke kami. Tapi seperti yang saya katakan tadi, karena ajaran pesantren, baik syariah ataupun tarekat, cendereung disampaikan secara formalistik, sehingga semakin kaku dan kurang menyenangkan. Padahal para ulama dahulu bisa diterima dengan cepat karena menyampaikan gagasannya dengan indah melalui syair.
Mari kita pancarkan cahaya rahmat Islam dengan cara yang indah dan imajinatif, agar melunakkan hati yang keras dan menghangatkan hati yang dingin. Seni adalah jalan terbaik untuk itu. Bukankah Al-Qur'an bukan kita hukum saja, tapi juga kitab sastra yang maha indah?
Jadi mari berkesenian. Karena seni membuat sentuhan surgawi dalam kehidupan kita, agar lebih menyala-nyala dalam rahmat-Nya.
Ada pendapat seni tertentu, alat musik tertentu harus dihindari karena bisa melalaikan Allah, bahkan ada ulama yang melarang baca seni Al-Qur'an. Apa pendapat Anda?
Karya seni tidak mengenal dosa, karena tidak bisa dihukumi. Yang terkena hukum itu manusianya. Betul kan?
Kalau musik, sastra, lukisan, drama, memang digunakan untuk lari dari Tuhan, maka akan sesat dengan sendirinya. Tapi kalau digunakan sebagai jalan menuju Tuhan, insya Allah akan sampai. Jadi tergantung kitalah, para senimannya, untuk apa kesenian itu.
Lihat saja, makna dan tujuan di balik karya seni, jangan hanya bendanya. Jangankan kesenian, negara dan agama saja, kalau digunakan untuk tujuan kekuasaan pribadi, akan membuat kita jauh dari Tuhan. Tapi, tembang suluk atau pop, jika ditujukan kepada Tuhan, akan terasa lebih spiritual dan relejius.
Apa yang Anda pikirkan tentang seni yang hari ini tumbuh di pesantren dan komunitas Islam, seperti sholawatan, hadroh, genjring, marawis, kaligrafi?
Kesenian yang telah hidup di pesantren dan masyakarat Islam secara luas tentu harus dijaga keberlangsungannya. Sambil dikembangkan secara kreatif agar tetap relevan dan semakin diterima oleh banyak penikmat, oleh masyakarat luas.
Bagaimana pula dengan arsitektur (yang ada di) pesantren, juga masjid dan langgar? Tampaknya seni bangunan banyak diabaikan di pesantren. Sekedar berkiblat pada fungsi dan tren saja.
Dunia arsitektur kita secara umum sedang ikut arus tren global, terutama gaya dan materinya. Tapi di level konseptual dan paradigma, ita belum mewarnai secara signifikan. Masih jauh bagi kita arsitektur berkelas seperti Nouval, Hadid, Koolhaas, atau Ando. Tapi mau bermain dengan mengeksplorasi gaya lokal juga belum ketemu yang bener-benar kuat, padahal itu sumber inspirasi yang luar biasa kaya. Nah, itu secara umum.
Pesantren arsitekturnya biasa, rada latah, atau malah kelewat sederhana. Wajar saja karena memang tidak diajarkan soal arsitektur. Lha yang diajar jadi arsitek saja kurang punya visi dan selara. Ini kita sedih.
Bagaimana dengan arsitektur pesantren Anda? Saya lihat ada pendopo Jawa, tapi bangunan lain bergaya poskolonial.
Perencanaan makro pesantren Kaliopak lebih untuk pengajian, pelatihan dan berkesenian. Jadi kami membuat banyak ruang yang luas dan terbuka. Gaya tradisional membuat pesantren terasa lebih homy bagi masyarakat Jogja, tapi kurang begitu kuat. Sedangkan yang moderen kurang homy, tapi lebih kuat karena materialnya. Tapi sejujurnya kami tidak punya desain secara keseluruhan. Semua berjalan begitu saja, sesuai usaha dan kata hati kami, di bawah ridlo Allah. Amin.
Pesantren Kaliopak mulai dibangung dan dirinti pada tahun 2004. Kegiatan pesantren terhenti karena lindu yang mengguncang Jogjakarta dan sekitarnya, pada bulan Mei 2006. Tapi karena lindu itulah pesantren jadi ramai. Warga sekitar rubungan di pesantren, ngobrol, solawatan, sembayang, dan lainnya. Pada waktu itu belum dialiri listrik.
Letak pesantren di Jalan Wonosari Km 11 Dusun Klenggotan, Bantul. Dari pusat kota Jogja, hanya 30 menit naik kendaraan bermotor. Untuk sampai ke sana, rutenya tidak rumit, telusiri saja Jalan Wonosari, setelah sampai jembatan Kaliopak, ada pasar, ke timur sedikit, ada Gang Masjid al-Muttaqin, lalu masuk sekitar 100 meter, ada pos ronda masuk terus sampai pinggir sungai. Di situlah pesantren berada, nama pesantren sama dengan nama sungai yang ada persis di pinggirnya, Pesantren Kaliopak.
Di sana, pesantren lebih banyak digunakan untuk pelatihan dan pertunjukan seni serta diskusi untuk umum. Ada pelatihan menulis hingga pelatihan film. Diskusi tasawuf hingga tarian. Pameran lukisan hingga pidato kebudayaan. Tidak banyak santri yang menetap di sana. Santrinya silih berganti dalam waktu yang cepat, datang dari mana-mana. Tapi tak lama mereka akan datang lagi, karena kesengsem. Tapi tak lupa juga, selayaknya pesantren, ada pengajian Al-Qur'an untuk anak-anak dan pengajian kitab-kitab, tapi memang tidak banyak.
Pesantren Kaliopak ikut mewarnai pesantren yang sudah ada terlebih dahulu seperti Pesantren Krapyak di Bantul, Pesantren Sunan Pandan Aran di Sleman, dan lain-lain. Pesantren tersebut juga menjadi tempat sekolah yang kreatif di tengah Jogjakarta sebagai Kota Pelajar.
Pesantren Anda persis di sisi selatan sungai Kaliopak. Itu pilihan atau kebetulan saja?
Kebetulan saja. Tapi kami percaya itu Tuhan yang mengatur, karena terasa begitu nyaman dan hidup, meski di ujung senyap Jogjakarta.
Kenapa pesantren Anda tidak bernama Al-Ikhlas, Al-Huda, atau At-Taqwa, melainkan Kaliopak?
Untuk mengikat nama pesantren dan ruang sosial, kultural, historis, dan geografis dari masyarakat dimana ini berada. Dulu nama pesantren banyak yang menggunakan nama tempat, seperti Tebuireng, Krapyak, Lirboyo, Babakan, Cipasung. Itu membuat pesantren lebih memiliki otoritas di tanah yang ditempati pesantren. Sangat penting ditinjau dari segi strategi kebudayaan, terutama dalam kaitannya dengan soal kedaulatan.
Siapa atau golongan mana saja penerima manfaat atau santri Kaliopak?
Pesantren Kaliopak melibatkan masyarakat dusun Klenggotan dalam kegiatan-kegiatannya. Para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga sering ikut bantu-bantu kegiatan kami. Ada dari mereka yang melakukan residensi, untuk disksusi atau penelitian. Dari UIN SUKA, UGM, UI, ISI, santri-santri dari pelbagai pesantren, dan banyak lagi. Akademisi, seniman, petani, pedagang, ulama, juga dukun, biasa menikmati kegiatan pesantren Kaliopak. Juga kalangan lintas agama, etnis, kelas sosial, dan berbagai usia bisa datang dengan senang dan menikmati kegiatan-kegiatan di sini. Kami berusaha semampunya untuk melakukan rahmatan lil 'alamin.
Kembali ke dunia seni, Mas. Tampaknya Wayang Suket dan Ki Slamet Gundono sering tampil di Kaliopak, baik diskusi ataupun wayangan. Ada alasan khusus?
Slamet Gundono itu orangnya asyik, kreatif, santri, dan harganya bisa dinego. Kalau bisa malah gratis. Demi visi yang sama, kami patung tempat, dia dan kawan-kawan nyumbang karya...hahaha... Gundono itu seorang seniman dan dalang yang eksperimental, kreatif, tapi tetap komunikatif. Dia seorang santri dengan cinta kemanusiaan yang besar di dadanya.
Kebetulan saja. Tapi kami percaya itu Tuhan yang mengatur, karena terasa begitu nyaman dan hidup, meski di ujung senyap Jogjakarta.
Kenapa pesantren Anda tidak bernama Al-Ikhlas, Al-Huda, atau At-Taqwa, melainkan Kaliopak?
Untuk mengikat nama pesantren dan ruang sosial, kultural, historis, dan geografis dari masyarakat dimana ini berada. Dulu nama pesantren banyak yang menggunakan nama tempat, seperti Tebuireng, Krapyak, Lirboyo, Babakan, Cipasung. Itu membuat pesantren lebih memiliki otoritas di tanah yang ditempati pesantren. Sangat penting ditinjau dari segi strategi kebudayaan, terutama dalam kaitannya dengan soal kedaulatan.
Siapa atau golongan mana saja penerima manfaat atau santri Kaliopak?
Pesantren Kaliopak melibatkan masyarakat dusun Klenggotan dalam kegiatan-kegiatannya. Para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga sering ikut bantu-bantu kegiatan kami. Ada dari mereka yang melakukan residensi, untuk disksusi atau penelitian. Dari UIN SUKA, UGM, UI, ISI, santri-santri dari pelbagai pesantren, dan banyak lagi. Akademisi, seniman, petani, pedagang, ulama, juga dukun, biasa menikmati kegiatan pesantren Kaliopak. Juga kalangan lintas agama, etnis, kelas sosial, dan berbagai usia bisa datang dengan senang dan menikmati kegiatan-kegiatan di sini. Kami berusaha semampunya untuk melakukan rahmatan lil 'alamin.
Kembali ke dunia seni, Mas. Tampaknya Wayang Suket dan Ki Slamet Gundono sering tampil di Kaliopak, baik diskusi ataupun wayangan. Ada alasan khusus?
Slamet Gundono itu orangnya asyik, kreatif, santri, dan harganya bisa dinego. Kalau bisa malah gratis. Demi visi yang sama, kami patung tempat, dia dan kawan-kawan nyumbang karya...hahaha... Gundono itu seorang seniman dan dalang yang eksperimental, kreatif, tapi tetap komunikatif. Dia seorang santri dengan cinta kemanusiaan yang besar di dadanya.
Label:
Holaqoh
01.27
Habib Syech, di antara Shalawat dan Indonesia Raya
Tubuhnya terbilang gemuk, wajahnya bulat, mata dan hidungnya khas tanah Arab, kopyah putih bulat tak lepas dari kepalanya. Namun tatapan mata dan gaya bicaranya medok Jawa bagian Solo: santun dan bersahabat. Itulah Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf.
Dialah Shohibu Majelis Ta’lim Dzikir dan Shalawat Ahbaabul Musthofa, di Solo. Pengajiannya selalu penuh di manapun berada. Di lapangan bola, penuh selapangan bola. Di aula kampus atau pesantren, membludak seaula kampus atau pesantren. Ribuan orang dinamis mengikuti shalawatannya dan khidmat mendengarkan taushiyahnya.
Minggu lalu Habib Syech menerima kontributor NU Online, Khoirudin dan Faiz, diterima dikediamannya di Solo, selama 1,5 jam. Ditemani teh dan kudapan, kami berbincang hangat. Di tengah berbincangan, sesekali ia menabuh genjring dan bershalawat.
Bib, bisa diceritakan latar belakang Majelis Ta’lim Dzikir dan Shalawat Ahbaabul Musthofa?
Kita melihat perpecahbelahan antarumat. Didirikannya Ahbaabul Mushtofa ingin mempersatukan umat dengan shalawat. Kita bershalawat untuk menjalankan apa yang diterangkan dalam Al-Qur’an maupun hadist. Keutamaan Shalawat yaitu untuk penyejuk dan ketentraman hati.
Siapa jama'ah yang menghadiri dalam majelis Ahbaabul Musthofa?
Ahbaabul Musthofa tidak punya jama'ah khusus. Kami hanya sebagai wadah. Jama'ahnya adalah semua umat Islam yang senang shalawat. Ahbaabul Musthofa hanya wadah untuk mengumpulkan Ahlusunnah wal Jamaah. Yang hadir dari berbagai jamaah, seperti Alhidayah, Jamuro, dan dari semua elemen masyarakat. Biasanya yang hadir minimal sepuluh ribuan orang di setiap acara. Kalau rutinan pengajian di rumah ini setiap malam kamis yang hadir 2.000-5.000 orang.
Apa sih makna Shalawat bagi Umat Islam?
Tadinya di setiap acara saya tidak bershalawat. Saya ceramah tanpa shalawat tapi setelah saya lihat hasilnya kurang. Lalu kita mengubah cara dengan mengawali dulu dengan shalawat, baru ceramah, nasehat dan pelajaran ilmu. Itu karena manusia yang hadir mempunyai pikiran yang berlainan, pikirannya macem-macem. Setelah mereka datang di suatu tempat kita masuki dengan shalawat, dengan dzikrullah wa dikrurosulih.
Setelah pikiran mereka dingin baru kita nasehati. Ahbaabul Musthofa memakai wadah shalawat karena shalawat adalah penyejuk. Nabi Muhammad, manusia yang kita bacakan shalawat kepada Allah adalah manusia sebagai contoh tauladan bagi umat.
Bagaimana kita menyikapi orang yang tidak menyukai sholawat?
Saya yakin semua orang suka shalawat. Jadi ketika ada orang yang tidak suka shalawat itu cuma karena dia tidak punya tempat di masyarakat. Akhirnya dia membuat ulah yang baru, akhirnya dia mendapat tempat. Kalau orang tidak suka shalawat, benci shalawat, berarti dia bukan umat Nabi Muhammad SAW. Itu sama saja ia tidak menjalankan perintah Allah dan sunah Nabi Muhammad.
Apa tantangan umat Islam saat ini?
Umat Islam kita harap bersatu. Jangan mempermasalahkan masalah furu'iyyah (cabang, red.). Islam kita mulai dihancurkan oleh orang-orang non muslim dengan merusak akhlaq dan moral bangsa ini. Lalu kenapa kita masih ribut masalah tahlil dan bukan tahlil, qunut dan tidak qunut?
Ayo kita bersatu bagaimana kita kuatkan Islam ini dengan satu sama lain dengan mempelajari apa yang telah disampaikan orang-orang tua kita. Buka lagi Al-Qur’an, buka lagi sunah Rasul. Punya pendapat beda silakan saja, tetapi kita tidak saling menyalahkan tentang masalah-masalah furu'iyyah. Jangan kita merasa diri kita lebih baik daripada yang lain. Jangan merasa kita lebih benar. Jangan merasa kita paling dekat dengan surga. Bangsa kita perlu disatukan dan jangan pula kita dipecah belah oleh partai. Partai dan organisasi itu hanya satu wadah. Tetapi kebersamaan ini yang kita butuhkan. Jangan kita lebih mementingkan partai atau organisasi itu daripada Islamnya.
Menurut Habib, dakwah yang baik itu seperti apa?
Sistem dakwah romo kiai dan Walisongo menurut saya paling mudah dan baik, apalagi di Jawa Tengah. Dengan seni kita masuk. Shalawat kita kemas dengan kesenian. Dengan cara itu lebih mengena ke masyarakat. Istilahnya dadio banyu ning ojo kintir. Di mana tempat kita mesti masuk. Dengan orang tua kita harus menghormati. Dengan yang muda kita harus sayangi. Ada orang maksiat jangan kita caci. Sama orang taat harus kita ikuti.
Bagaimana cara agar dakwah itu berhasil?
Pertama kita harus ikhlas. Kedua, tahu karakter masyarakat yang diajak bicara. Ketiga, dakwah dengan ucapan, dengan tingkah laku, dengan harta. Terus jangan menghilangkan kesenian di masyarakat semenjak itu tidak menyebabkan lupa kepada Allah dan Rosulnya. Dakwah dengan sholawat menurut saya dapat berhasil. Sekarang hampir seluruh Indonesia bersholawat. Belum tentu orang yang bershalawat itu baik tetapi kita mengarahkan mereka dan diri kita sendiri untuk menjadi baik. Saya punya cita-cita Indonesia bershalawat. Seluruh bumi pertiwi penuh dengan orang bersholawat.
Di akhir majlis Habib membawakan lagu Indonesia Raya, apa tujuannya?
Di akhir majlis kadang saya membawakan Indonesia Raya untuk membangkitkan umat ini agar kenal kepada bangsanya, kepada negaranya. Banyak orang yang tidak hafal Indonesia Raya. Saya ingin membangkitkan ghiroh kepada bangsa dan supaya masyarkat dan pemerintah tahu bahwa setiap ulama di negeri ini selalu berdampingan dengan pemerintah yang benar.
Dialah Shohibu Majelis Ta’lim Dzikir dan Shalawat Ahbaabul Musthofa, di Solo. Pengajiannya selalu penuh di manapun berada. Di lapangan bola, penuh selapangan bola. Di aula kampus atau pesantren, membludak seaula kampus atau pesantren. Ribuan orang dinamis mengikuti shalawatannya dan khidmat mendengarkan taushiyahnya.
Minggu lalu Habib Syech menerima kontributor NU Online, Khoirudin dan Faiz, diterima dikediamannya di Solo, selama 1,5 jam. Ditemani teh dan kudapan, kami berbincang hangat. Di tengah berbincangan, sesekali ia menabuh genjring dan bershalawat.
Bib, bisa diceritakan latar belakang Majelis Ta’lim Dzikir dan Shalawat Ahbaabul Musthofa?
Kita melihat perpecahbelahan antarumat. Didirikannya Ahbaabul Mushtofa ingin mempersatukan umat dengan shalawat. Kita bershalawat untuk menjalankan apa yang diterangkan dalam Al-Qur’an maupun hadist. Keutamaan Shalawat yaitu untuk penyejuk dan ketentraman hati.
Siapa jama'ah yang menghadiri dalam majelis Ahbaabul Musthofa?
Ahbaabul Musthofa tidak punya jama'ah khusus. Kami hanya sebagai wadah. Jama'ahnya adalah semua umat Islam yang senang shalawat. Ahbaabul Musthofa hanya wadah untuk mengumpulkan Ahlusunnah wal Jamaah. Yang hadir dari berbagai jamaah, seperti Alhidayah, Jamuro, dan dari semua elemen masyarakat. Biasanya yang hadir minimal sepuluh ribuan orang di setiap acara. Kalau rutinan pengajian di rumah ini setiap malam kamis yang hadir 2.000-5.000 orang.
Apa sih makna Shalawat bagi Umat Islam?
Tadinya di setiap acara saya tidak bershalawat. Saya ceramah tanpa shalawat tapi setelah saya lihat hasilnya kurang. Lalu kita mengubah cara dengan mengawali dulu dengan shalawat, baru ceramah, nasehat dan pelajaran ilmu. Itu karena manusia yang hadir mempunyai pikiran yang berlainan, pikirannya macem-macem. Setelah mereka datang di suatu tempat kita masuki dengan shalawat, dengan dzikrullah wa dikrurosulih.
Setelah pikiran mereka dingin baru kita nasehati. Ahbaabul Musthofa memakai wadah shalawat karena shalawat adalah penyejuk. Nabi Muhammad, manusia yang kita bacakan shalawat kepada Allah adalah manusia sebagai contoh tauladan bagi umat.
Bagaimana kita menyikapi orang yang tidak menyukai sholawat?
Saya yakin semua orang suka shalawat. Jadi ketika ada orang yang tidak suka shalawat itu cuma karena dia tidak punya tempat di masyarakat. Akhirnya dia membuat ulah yang baru, akhirnya dia mendapat tempat. Kalau orang tidak suka shalawat, benci shalawat, berarti dia bukan umat Nabi Muhammad SAW. Itu sama saja ia tidak menjalankan perintah Allah dan sunah Nabi Muhammad.
Apa tantangan umat Islam saat ini?
Umat Islam kita harap bersatu. Jangan mempermasalahkan masalah furu'iyyah (cabang, red.). Islam kita mulai dihancurkan oleh orang-orang non muslim dengan merusak akhlaq dan moral bangsa ini. Lalu kenapa kita masih ribut masalah tahlil dan bukan tahlil, qunut dan tidak qunut?
Ayo kita bersatu bagaimana kita kuatkan Islam ini dengan satu sama lain dengan mempelajari apa yang telah disampaikan orang-orang tua kita. Buka lagi Al-Qur’an, buka lagi sunah Rasul. Punya pendapat beda silakan saja, tetapi kita tidak saling menyalahkan tentang masalah-masalah furu'iyyah. Jangan kita merasa diri kita lebih baik daripada yang lain. Jangan merasa kita lebih benar. Jangan merasa kita paling dekat dengan surga. Bangsa kita perlu disatukan dan jangan pula kita dipecah belah oleh partai. Partai dan organisasi itu hanya satu wadah. Tetapi kebersamaan ini yang kita butuhkan. Jangan kita lebih mementingkan partai atau organisasi itu daripada Islamnya.
Menurut Habib, dakwah yang baik itu seperti apa?
Sistem dakwah romo kiai dan Walisongo menurut saya paling mudah dan baik, apalagi di Jawa Tengah. Dengan seni kita masuk. Shalawat kita kemas dengan kesenian. Dengan cara itu lebih mengena ke masyarakat. Istilahnya dadio banyu ning ojo kintir. Di mana tempat kita mesti masuk. Dengan orang tua kita harus menghormati. Dengan yang muda kita harus sayangi. Ada orang maksiat jangan kita caci. Sama orang taat harus kita ikuti.
Bagaimana cara agar dakwah itu berhasil?
Pertama kita harus ikhlas. Kedua, tahu karakter masyarakat yang diajak bicara. Ketiga, dakwah dengan ucapan, dengan tingkah laku, dengan harta. Terus jangan menghilangkan kesenian di masyarakat semenjak itu tidak menyebabkan lupa kepada Allah dan Rosulnya. Dakwah dengan sholawat menurut saya dapat berhasil. Sekarang hampir seluruh Indonesia bersholawat. Belum tentu orang yang bershalawat itu baik tetapi kita mengarahkan mereka dan diri kita sendiri untuk menjadi baik. Saya punya cita-cita Indonesia bershalawat. Seluruh bumi pertiwi penuh dengan orang bersholawat.
Di akhir majlis Habib membawakan lagu Indonesia Raya, apa tujuannya?
Di akhir majlis kadang saya membawakan Indonesia Raya untuk membangkitkan umat ini agar kenal kepada bangsanya, kepada negaranya. Banyak orang yang tidak hafal Indonesia Raya. Saya ingin membangkitkan ghiroh kepada bangsa dan supaya masyarkat dan pemerintah tahu bahwa setiap ulama di negeri ini selalu berdampingan dengan pemerintah yang benar.
Label:
Holaqoh
01.23
Lakpesdam, Pilar Keempat NU?
Keberadaan Lakpesdam merupakan upaya implementasi gagasan kembali ke Khittah yang diamanahkan mukatamar ke-27 NU di Situbondo. Munculnya Lakpesdam merupakan upaya meminimalisir NU yang terlalu politis sehingga agenda sosial-keagamaan NU terabaikan.
Pada Munas Alim Ulama Situbondo itu memberikan pesan untuk mengembalikan peran NU pada Khitta 1926, yakni mengarahkan peran dan program NU pada usaha pengembangan masyarakat, khususnya warga NU.
Pada muktamar NU di Situbondo tersebut KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Ia langsung menyiapkan tim untuk merumuskan konsep pengembangan sumberdaya manusia (PSDM). Saat itu ada empat alasan mengapa konsep PSDM itu penting. Petama; kualaitas SDM rata-rata penduduk Indonesia masih rendah dan perlu ditingkatkan.
Kedua; perlu dilakukan peniingkatkan dan perluasan peran serta NU dalam upaya pengembangan SDM sebagai salah satu khidmahnya.Ketiga; peran serta NU dalam upaya PSDM perlu didasarkan atas suatu konsepsi dan dituangkan dalam program operasional yang jelas. Keempat; peningkatan kualitas SDM menempati kedudukan yang strategis dalam peningkatan kualitas masyarakat.
Konsep PSDM itu merupakan perpanjangan dari konsep atau ajaran Ahlusunnah wal Jamaah, Khittah NU dan Mabadi Khaira Ummah. Ketiga ajaran itu adalah pilar NU dan diharapkan konsep PSDM itu adalah pilar lanjutannya, atau pilar ke-4, yakni mencakup adanya acuan ikhtiar aktualisasi terhadap muatan-muatan yang terkandung dalam ketiga pilar sebelumnya dalam hubungannya dengan program PSDM NU.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Lakpesdam atau Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia NU ini, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Ketua Pengurus Pusat Lakpesdam Yahya Ma’sum, di kantor PP Lakpesdam, Jl. H. Ramli No. 20 A, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu, (12/10) lalu. Berikut petikannya:
Posisi Lakpesdam menurut buku 20 Tahun Lakpesdam disebut sebagai pilar keempat NU. Bagaimana penjelasannya?
Ya, maksudnya, di NU itu kan ada berbagai fungsi-fungsi yang harus dilakukan. Nah, fungsi Lakpesdam itu mandatorinya bagaimana mengembangkan SDM-nya NU. Kalau bahasanya Pak Hasyim Muzadi, itu bagaimana memintarkan NU, dengan pengertian yang dilakukan itu memang lebih pada pendidikan atau upaya pencerdasan melalui kegiatan-kegiatan yang tidak resmi sekolah. Kalau sekolah Ma’arif ya lewat proses-proses belajar dalam pengertian luas. Intinya membangun kesadaran kritis kepada warga NU untuk memahami hak-haknya sebagai warga NU, sebagai warga bangsa. Dan kemudian bisa melakukan, mengoptimalkan untuk mendapatkan hak-hak itu. Itulah yang disebut dengan pilar keempat NU.
Yang kedua, adalah berusaha bagaimana membangun pemahaman yang benar tentang gerakan NU sesuai khittah 1926 karena ini lahir sebenarnya berangkat dari khittah 1926 itu. Karena mandatorinya itu lembaga yang secara khusus, maka Gus Dur mendirikan lembaga ini. Jadi, mencakup pencerdasan, untuk memahami hak-haknya termasuk memahami tentang, kita itu sudah nggak berpolitik. Kita lebih fokus kepada gerakan-gerakan kemanusiaan yang diutamakan.
Karena itu, sesungguhnya keberadaan NU pada awalnya seperti itu. Mulai dari adanya Nahdlatut Tujjar, ada Tasywirul Afkar. Itu semua yang mendasari lahirnya Lakpesdam. Nah, kira-kira begitu.
Bagaimana keadaan warga NU dalam sebelum dan sesudah Lakpesdam didirikan?
Sebenarnya, kondisi sekarang bukan mutlak Lakpesdam ya. Lakpesdam hanya satu skrup, pilar tadi itu saja. Tapi bahwa gerakan kembali ke khittah 26 yang dicanangkan oleh tokoh-tokoh termasuk Gus Dur waktu itu ya menurut saya, kondisinya menjadi lebih baik dibanding pada saat sebelum diproklamirkannya khittah 1926 karena dimensi warga NU sekarang ini sangat luas latar belakangnya, keahliannya keberadaannya di mana-mana dan kemudian setelah Gus Dur membawa NU ini adalah orang kemudian menyatakan saya juga NU yang sebelumnya orang nggakberani pada waktu itu. Apalagi setelah Gus Dur menjadi presiden. Setelah dihimpun-himpun begitu, ternyata banyak warga NU.
Dulu pernah terjadi kekuatiran. Pada saat Gus Dur pertama kali naik, kita nggak punya uang,nggak punya orang, siapa yang jadi ini, sekarang banyak. Anda kalau tahu jaringannya teman-teman kita yang belajar di luar negeri, yang masuk namanya PCINU, pengurus maupun anggota ataupun yang tidak masuk organisasi itu yang NU itu luar biasa jumlahnya dan kepintarannya maca-macam. Dan sekarang beberapa mereka sudah kembali ke Indonesia mereka establish di tempatnya secara profesional masing-masing. Ada dosen, ada di birokrat,
Jadi menuurut saya, itu semua adalah pengaruh besar dari dicanangkan kembali khittah 26. Itu bukan berarti murni satu-satunya Lakpesdam. Tapi banyak orang berkontribusi. Yang menjadi kontribusi Lakpesdam itu ya berusaha semaksimal mungkin bagaimana mewujudkan khittah 26 itu dengan bekerja di lapangan. Nah, itu. Makanya kita dikenal banyak pendampingan, pengorganisasian di tingkat basis, pendampingan masyarakat. Lembaga-lembaga lain belum memasuki , Lakpesdam sudah. Selain itu, melakukan training-training kader penggerak. Itu semua dilakukan Lakpesdam. Sampai kita masuk wilayah bagaimana membangun pemahaman, keterampilan di dalam rangka perdamaian.
Nah, yang begitu-begitu itu kita bekerja secara simultan. Itu semua diinspirasi oleh tadi itu, kita harus bergerak lebih kepada kemanusiaan supaya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Aspek itu yang berekembang sekarang sampai kita konsen di dalam pemberdayaan orang miskin dengan berbagai program kita. Di lapangan sekarang perkembangannya kan lembaga-lembaga lain juga bergerak cepat periode yang sekarang ini. Di NU saya lihat, semua lembaga bergerak.
Jadi, khittah 26 keberhasilannya menurut saya ya kontribusinya semua orang, komponenstakeholder sehingga dunia melihat NU masih punya kekuatan.
Itu yang di luar negeri. Dan hanya sebagian kecil. Secara umum kondisi warga NU sekarang itu bagaimana?
Yang jelas bahwa masyarakat kita secara umum di Indonesia ini kan belum sepenuhnya menikmati kesejahteraan. Belum sepenuhnya mendapatkan akses untuk hidup sejahtera. Di bidang pelayanan publik, misalnya masih belum semuanya mendapatkan akses karena berbagai hal. Yang paling penting adalah pemahaman mereka tentang hak-hak itu tadi. Makanya kemudian yang diusahakan Lakpesdam bagaimana kebutuhann-kebutuhan seperti ini. Nah, terjadilah atau dilakukanlah pendidikan rakyat, pendidikan atau sekolah rakyat, atau kesehatan, pusat pembelajaran masyarakat.
Jadi, itu semua pengkaderan bahwa di tingkat basis yang paling rendah di pedesaan belum sepenuhnya bisa mengakses apa yang sudah dianggap oleh pemerintah terbuka macam-macam. Itu berhenti kepada kelompok-kelompok tertentu. Tetapi masyarakat di bawah itu masih ketinggalan, masih banyak masyarakat yang terkategorikan belum sempat menikmati pembangunan.
Jumlah mereka itu banyak. Kalau anggota NU 70 jutaan, sebagian besar warga NU di sana. Tapi mungkin tidak separah dulu ya. Tapi bahwa masih tertinggal dari kelompok yang lain, iya.
Nah, dari situ, tugas Lakpesdam melakukan pemberdayaan. Konsep pemberdayaan yang digunakan Lakpesdam itu seperti apa, misalnya dikaitkan dengan nilai-nilai Ahlus Sunnah wal-Jamaah atau ke-NU-an?
Di dalam khittah 1926 itu kan ada namanya Mabadi Khoira Umah. Mabadi Khoiru Umah itu kan norma-norma, etik-etik, atau moral-moral yang perlu dipegangi dalam upaya membangun masyarakat. Basisnya kita menggunakan itu. Di situ ada musyawarah, ada beberapa dimensi di Mabadi Khoiru Umah. Itu menjadi bagian dari yang melandasi bagaimana membangun umat NU. Yang kedua, karena kita sejak dulu itu bergerak membangun pemikiran keagamaan terbuka sesuai nilai-nilai khitah 26 itu yang ada toleran, tasamuh, macam itu juga menjadi bagian cara kita mengembangkan berbagai pendekatan pemcahan masalah jangan sampai kita itu tidak melakukan nilai empat di Mabadi Khoiru Umah; ada moderat, ada toleran, i’tidal, amar ma’ruf nahi munkar. Saya konsen amar jangan samapai ini jadi pisau yang salah seperti dilakukan kelompok lain, kita dianggap meninggalkan nahi munkar, padahal bagi kita, nahi munkar itu dianggap sebagai dari amar ma’ruf.
Tapi sepertinya nahi munkar itu seperti memakai kekerasan macam-mcam. Itu yang saya bilang kita harus hati-hati dengan istilah amar ma’ruf nahi munkar karena itu kita tak boleh terlepas dari dimensi-dimensi Aswaja itu menjjadi kerangka berpikir di kita bekerja sehingga kita membuka yang datang, kita bekerja dengan siapa pun, menerima dari mana pun, tapi kita punya filter. Kita tidak main di kendangnya orang lain, tetapi kita memerlukan suport-suport orang lian siapa pun dari manapun, tapi kita filter. Filter itu kadang-kadang menjadi perdebatan ada yang pro dan tidak. Dengan segala konsekuensinya da yang bilang Lakpesdam itu sudah donor minded begitu. Nggak ada persoalan. Biarin aja. Kita membuktikan siapa yang mandiri, siapa tidak.
Konsep Lakpesdam yang besar seperti itu, dikaitkan dengan aplikasi ke program secara praktis bagaimana?
Jadi, berdasarkan ajaran-ajaran di khittah 26, ada Aswaja, ada Mabadi Khoira Umah itu lalu kemudian kita juga menggunakan arah basis yang kita sebut dengan kemandirian dalam pengertian cara berpikir, ekonomi; kalau bisa, mandiri bersikap, politik. Karena itu maka membangun kecerdasan penting dan pertama. Seluruh rogram-program kita, diarahkan ke sana. Pertama kita melakukan program pemenuhan kebutuhan yang kita sebut dengan program yang disebut dengan program pragmatis. Dari situ kita masuk program strategis. In program praktis. Kalau kita sudah ngomong program strategis, di situ itu di dalamnya sudah mengandung unsur-unsur bagaiamana kecerdasan dan kemandirian itu menjadi alat, sebagai dasar untuk melakukan advokasi.
Jadi, advokasi itu ya di tingkat strategis, nggak lagi praktis. Makanya dimulai biasanya kita memberikan pengetahuan. Terus kalau ada kegiatan-kegiatan ekonomi itu menjadi bagian dari pilot project, alat-alat, sebagai media saja dengan program itu, masyarakatnya mau datang, mau berorganisasi, mendapat pengalaman, memahami isu-isunya. Baru setelah itu dibawa ke program strategis: advokasi, jalan sendiri mereka. Contohnya yang sekarang ini dengan PNPM Peduli. Program ini secara kasar, orang-orang kadang melihatnya ini mengentaskan kemiskinan. Tadi program yang kita pakai adalah program pengentasan kemiskinan berbasis kepada masyarakat. Jadi pengurangan kemiskinan berbasis kepada masyarkaat.
Karena itu maka supaya menguatkan sumber daya NU, melalui program ini sehingga dia menyadari persoalan-persoalan hidup dia kemudian dia mengorganisir diri. Baru masuk aspek-aspek ekonomi. Dia diarahkan untuk berjejaring dengan pihak-pihak lain. Ketika semua itu terjadi, dari segi teoritis itu sudah selesai. Artinya satu tahap sudah selesai, masyarakat sudah punya jaringan. Sudah punya organisasi di tingkat lapangan. Kemudian, secara perlahan, nanti periode-periode berikutnya, masuk ke wilayah strategis ini; melakukan advokasi-advokasi sehingga kalau ada advokasi atau ada diskusi mengenai perundang-undngan apa, isu apa, perwakilan-perwakilan dari masyarakat yang dibina ini sudah bisa. Lakpesdam kemudian fungsinya sebagai pendorong saja.
Program-progrma lain juga begitu. Kalau yang PNPM ini, ekonomi kita jadikan sebagai pilot project, uji coba konsep. Yang kedua jadi titik masuk untuk meraka. Tadi itu supaya mereka cerdas, sadar. Mereka paham konsep Mabadi Khoiru Umah, ekonominya juga mengerti. Tidak boleh monopoli ada sering ada musyawarah menggunakan prinsip-prinsip Mabadi Khoiru Umah dalam artian aplikatif ya. Bukan normatif sehingga sebelum bergerak, seluruh petugas-petugas, relawan-relawan, atau kader NU di tingkat lapangan yang membangun program ini, pertama kali yang dilakukan adalah proses penyadaran mengenai khitah 26, Mabadi Khoiru Umah, NU ini mau kemana. Kalau NU itu nggak ada, itu perlu nggak? Mereka diberikan penyadaran begitu. Kalau sampeyan menjadi tugas proyek ya sudah selesai. Nggak ada bedanya dengan yang lain. Itu yang ditanamkan di program ini.
Menurut Lakpesdam, idealnya masyarakat NU secara kolektif maupun individu itu bagaimana?
Idealnya mereka yang bisa menikmati, bersama dengan masyarakat lain pembangunan. Yang kedua, atau tahap berikutnya, bisa berperan menjadi bagian dari peroses pembangunan. Jadi bukan hanya penikmat, tapi melakukan, turut serta dalam pembangunan.
Warga NU yang mengerti menjadi bukan hanya di tingkat nasional tapi di tingkat pedesaaan. Salah satu program ke arah itu namanya Forum Warga di beberapa desa. Forum Warga itu merupakan representasi dari kelomppok-kelompok petani, pedagang, ada di Cilacap, di Jepara, di Wonosobo. Bahkan di Cilacap itu sudah bisa melakukan diversifikasi kegiatan, sampai usaha-usaha mikro-finance; BMT dan mereka bisa memenuhi kebutuhannya antarmereka. Nyambung sekarang dengan program PNPM Pedulii ini.
Yang kedua mereka sudah masuk ke upaya untuk membangun warga NU dan masyarakat umum yang masuk sebagai tengaa kerja ke luar negeri. Dia masuk itu. Dia punya jaringan itu, punya pendidikan itu, untuk keluarga tenaga kerja itu dan punya akses dalam bentuk website, macam-macam. Kerjasamanya dengan yayasan Tifa di Jakarta. Dan mereka dianggap terbaik dalam melaksanakan program Tifa. Itu karena mereka sudah membangun forum warga bertahun-tahun. Nah, sekarang sudah ada organisasinya macam-macam di desa itu sehingga di desa itu, masyarakat NU-nya ngerti-ngerti. Mereka didampingi terus Lakpesdam Cilacap, termasuk di Jepara. Di situ ada orang NU, non-NU. Jadi satu. Karena mereka lebih bisa menerima NU kan.
Nah, itu bukti dari proses-proses pembangunan itu juga harus terlibat dari tingkat masyarakat. Tetapi jangkauan Lakpesdam itu terbatas, sehingga belum merata semua NU begitu.
Bisa disebutkan program-program sekarang terkait pemberdayaan?
Program-program Lakpesdam di antaranya, penguatan pemahaman ke-NU-an dengan menerbitkan jurnal Taswirul Afkar dan belajar Islam. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman warga Nahdliyyin terkait pemikiran keislaman ala NU; Menyebarkan pemahaman aswaja ke msyarakat luas.
Ada program Belajar Islam dengan tujuan menyebarkan ajaran Islam dalam prespektif fiqih, aqidah dan syariah ala Aswaja. Program ini disiarkan oleh saluran TV (MNC-Indovition), setiap hari Rabu, bergantian dengan anggota konsorsium lainnya; Yayasan Paramadina, Masyarakat pemirsa TVMNC Indovition. Telah disiarkan di TVMNC Indovition sebanyak 75 kali, dengan berbagai topik. Narasumber dari PBNU, Lakpesdam dan lembaga/lajnah yang terkait. Lalu ada program pemberdayaan ekonomi umat, penataan dan peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan dan pelayanan kesehatan, pelayanan sosial dan kependudukan, perlindungan tenaga kerja dan buruh, penguatan jaringan kerja nasional dan internasional.
Pada Munas Alim Ulama Situbondo itu memberikan pesan untuk mengembalikan peran NU pada Khitta 1926, yakni mengarahkan peran dan program NU pada usaha pengembangan masyarakat, khususnya warga NU.
Pada muktamar NU di Situbondo tersebut KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Ia langsung menyiapkan tim untuk merumuskan konsep pengembangan sumberdaya manusia (PSDM). Saat itu ada empat alasan mengapa konsep PSDM itu penting. Petama; kualaitas SDM rata-rata penduduk Indonesia masih rendah dan perlu ditingkatkan.
Kedua; perlu dilakukan peniingkatkan dan perluasan peran serta NU dalam upaya pengembangan SDM sebagai salah satu khidmahnya.Ketiga; peran serta NU dalam upaya PSDM perlu didasarkan atas suatu konsepsi dan dituangkan dalam program operasional yang jelas. Keempat; peningkatan kualitas SDM menempati kedudukan yang strategis dalam peningkatan kualitas masyarakat.
Konsep PSDM itu merupakan perpanjangan dari konsep atau ajaran Ahlusunnah wal Jamaah, Khittah NU dan Mabadi Khaira Ummah. Ketiga ajaran itu adalah pilar NU dan diharapkan konsep PSDM itu adalah pilar lanjutannya, atau pilar ke-4, yakni mencakup adanya acuan ikhtiar aktualisasi terhadap muatan-muatan yang terkandung dalam ketiga pilar sebelumnya dalam hubungannya dengan program PSDM NU.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Lakpesdam atau Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia NU ini, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Ketua Pengurus Pusat Lakpesdam Yahya Ma’sum, di kantor PP Lakpesdam, Jl. H. Ramli No. 20 A, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu, (12/10) lalu. Berikut petikannya:
Posisi Lakpesdam menurut buku 20 Tahun Lakpesdam disebut sebagai pilar keempat NU. Bagaimana penjelasannya?
Ya, maksudnya, di NU itu kan ada berbagai fungsi-fungsi yang harus dilakukan. Nah, fungsi Lakpesdam itu mandatorinya bagaimana mengembangkan SDM-nya NU. Kalau bahasanya Pak Hasyim Muzadi, itu bagaimana memintarkan NU, dengan pengertian yang dilakukan itu memang lebih pada pendidikan atau upaya pencerdasan melalui kegiatan-kegiatan yang tidak resmi sekolah. Kalau sekolah Ma’arif ya lewat proses-proses belajar dalam pengertian luas. Intinya membangun kesadaran kritis kepada warga NU untuk memahami hak-haknya sebagai warga NU, sebagai warga bangsa. Dan kemudian bisa melakukan, mengoptimalkan untuk mendapatkan hak-hak itu. Itulah yang disebut dengan pilar keempat NU.
Yang kedua, adalah berusaha bagaimana membangun pemahaman yang benar tentang gerakan NU sesuai khittah 1926 karena ini lahir sebenarnya berangkat dari khittah 1926 itu. Karena mandatorinya itu lembaga yang secara khusus, maka Gus Dur mendirikan lembaga ini. Jadi, mencakup pencerdasan, untuk memahami hak-haknya termasuk memahami tentang, kita itu sudah nggak berpolitik. Kita lebih fokus kepada gerakan-gerakan kemanusiaan yang diutamakan.
Karena itu, sesungguhnya keberadaan NU pada awalnya seperti itu. Mulai dari adanya Nahdlatut Tujjar, ada Tasywirul Afkar. Itu semua yang mendasari lahirnya Lakpesdam. Nah, kira-kira begitu.
Bagaimana keadaan warga NU dalam sebelum dan sesudah Lakpesdam didirikan?
Sebenarnya, kondisi sekarang bukan mutlak Lakpesdam ya. Lakpesdam hanya satu skrup, pilar tadi itu saja. Tapi bahwa gerakan kembali ke khittah 26 yang dicanangkan oleh tokoh-tokoh termasuk Gus Dur waktu itu ya menurut saya, kondisinya menjadi lebih baik dibanding pada saat sebelum diproklamirkannya khittah 1926 karena dimensi warga NU sekarang ini sangat luas latar belakangnya, keahliannya keberadaannya di mana-mana dan kemudian setelah Gus Dur membawa NU ini adalah orang kemudian menyatakan saya juga NU yang sebelumnya orang nggakberani pada waktu itu. Apalagi setelah Gus Dur menjadi presiden. Setelah dihimpun-himpun begitu, ternyata banyak warga NU.
Dulu pernah terjadi kekuatiran. Pada saat Gus Dur pertama kali naik, kita nggak punya uang,nggak punya orang, siapa yang jadi ini, sekarang banyak. Anda kalau tahu jaringannya teman-teman kita yang belajar di luar negeri, yang masuk namanya PCINU, pengurus maupun anggota ataupun yang tidak masuk organisasi itu yang NU itu luar biasa jumlahnya dan kepintarannya maca-macam. Dan sekarang beberapa mereka sudah kembali ke Indonesia mereka establish di tempatnya secara profesional masing-masing. Ada dosen, ada di birokrat,
Jadi menuurut saya, itu semua adalah pengaruh besar dari dicanangkan kembali khittah 26. Itu bukan berarti murni satu-satunya Lakpesdam. Tapi banyak orang berkontribusi. Yang menjadi kontribusi Lakpesdam itu ya berusaha semaksimal mungkin bagaimana mewujudkan khittah 26 itu dengan bekerja di lapangan. Nah, itu. Makanya kita dikenal banyak pendampingan, pengorganisasian di tingkat basis, pendampingan masyarakat. Lembaga-lembaga lain belum memasuki , Lakpesdam sudah. Selain itu, melakukan training-training kader penggerak. Itu semua dilakukan Lakpesdam. Sampai kita masuk wilayah bagaimana membangun pemahaman, keterampilan di dalam rangka perdamaian.
Nah, yang begitu-begitu itu kita bekerja secara simultan. Itu semua diinspirasi oleh tadi itu, kita harus bergerak lebih kepada kemanusiaan supaya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Aspek itu yang berekembang sekarang sampai kita konsen di dalam pemberdayaan orang miskin dengan berbagai program kita. Di lapangan sekarang perkembangannya kan lembaga-lembaga lain juga bergerak cepat periode yang sekarang ini. Di NU saya lihat, semua lembaga bergerak.
Jadi, khittah 26 keberhasilannya menurut saya ya kontribusinya semua orang, komponenstakeholder sehingga dunia melihat NU masih punya kekuatan.
Itu yang di luar negeri. Dan hanya sebagian kecil. Secara umum kondisi warga NU sekarang itu bagaimana?
Yang jelas bahwa masyarakat kita secara umum di Indonesia ini kan belum sepenuhnya menikmati kesejahteraan. Belum sepenuhnya mendapatkan akses untuk hidup sejahtera. Di bidang pelayanan publik, misalnya masih belum semuanya mendapatkan akses karena berbagai hal. Yang paling penting adalah pemahaman mereka tentang hak-hak itu tadi. Makanya kemudian yang diusahakan Lakpesdam bagaimana kebutuhann-kebutuhan seperti ini. Nah, terjadilah atau dilakukanlah pendidikan rakyat, pendidikan atau sekolah rakyat, atau kesehatan, pusat pembelajaran masyarakat.
Jadi, itu semua pengkaderan bahwa di tingkat basis yang paling rendah di pedesaan belum sepenuhnya bisa mengakses apa yang sudah dianggap oleh pemerintah terbuka macam-macam. Itu berhenti kepada kelompok-kelompok tertentu. Tetapi masyarakat di bawah itu masih ketinggalan, masih banyak masyarakat yang terkategorikan belum sempat menikmati pembangunan.
Jumlah mereka itu banyak. Kalau anggota NU 70 jutaan, sebagian besar warga NU di sana. Tapi mungkin tidak separah dulu ya. Tapi bahwa masih tertinggal dari kelompok yang lain, iya.
Nah, dari situ, tugas Lakpesdam melakukan pemberdayaan. Konsep pemberdayaan yang digunakan Lakpesdam itu seperti apa, misalnya dikaitkan dengan nilai-nilai Ahlus Sunnah wal-Jamaah atau ke-NU-an?
Di dalam khittah 1926 itu kan ada namanya Mabadi Khoira Umah. Mabadi Khoiru Umah itu kan norma-norma, etik-etik, atau moral-moral yang perlu dipegangi dalam upaya membangun masyarakat. Basisnya kita menggunakan itu. Di situ ada musyawarah, ada beberapa dimensi di Mabadi Khoiru Umah. Itu menjadi bagian dari yang melandasi bagaimana membangun umat NU. Yang kedua, karena kita sejak dulu itu bergerak membangun pemikiran keagamaan terbuka sesuai nilai-nilai khitah 26 itu yang ada toleran, tasamuh, macam itu juga menjadi bagian cara kita mengembangkan berbagai pendekatan pemcahan masalah jangan sampai kita itu tidak melakukan nilai empat di Mabadi Khoiru Umah; ada moderat, ada toleran, i’tidal, amar ma’ruf nahi munkar. Saya konsen amar jangan samapai ini jadi pisau yang salah seperti dilakukan kelompok lain, kita dianggap meninggalkan nahi munkar, padahal bagi kita, nahi munkar itu dianggap sebagai dari amar ma’ruf.
Tapi sepertinya nahi munkar itu seperti memakai kekerasan macam-mcam. Itu yang saya bilang kita harus hati-hati dengan istilah amar ma’ruf nahi munkar karena itu kita tak boleh terlepas dari dimensi-dimensi Aswaja itu menjjadi kerangka berpikir di kita bekerja sehingga kita membuka yang datang, kita bekerja dengan siapa pun, menerima dari mana pun, tapi kita punya filter. Kita tidak main di kendangnya orang lain, tetapi kita memerlukan suport-suport orang lian siapa pun dari manapun, tapi kita filter. Filter itu kadang-kadang menjadi perdebatan ada yang pro dan tidak. Dengan segala konsekuensinya da yang bilang Lakpesdam itu sudah donor minded begitu. Nggak ada persoalan. Biarin aja. Kita membuktikan siapa yang mandiri, siapa tidak.
Konsep Lakpesdam yang besar seperti itu, dikaitkan dengan aplikasi ke program secara praktis bagaimana?
Jadi, berdasarkan ajaran-ajaran di khittah 26, ada Aswaja, ada Mabadi Khoira Umah itu lalu kemudian kita juga menggunakan arah basis yang kita sebut dengan kemandirian dalam pengertian cara berpikir, ekonomi; kalau bisa, mandiri bersikap, politik. Karena itu maka membangun kecerdasan penting dan pertama. Seluruh rogram-program kita, diarahkan ke sana. Pertama kita melakukan program pemenuhan kebutuhan yang kita sebut dengan program yang disebut dengan program pragmatis. Dari situ kita masuk program strategis. In program praktis. Kalau kita sudah ngomong program strategis, di situ itu di dalamnya sudah mengandung unsur-unsur bagaiamana kecerdasan dan kemandirian itu menjadi alat, sebagai dasar untuk melakukan advokasi.
Jadi, advokasi itu ya di tingkat strategis, nggak lagi praktis. Makanya dimulai biasanya kita memberikan pengetahuan. Terus kalau ada kegiatan-kegiatan ekonomi itu menjadi bagian dari pilot project, alat-alat, sebagai media saja dengan program itu, masyarakatnya mau datang, mau berorganisasi, mendapat pengalaman, memahami isu-isunya. Baru setelah itu dibawa ke program strategis: advokasi, jalan sendiri mereka. Contohnya yang sekarang ini dengan PNPM Peduli. Program ini secara kasar, orang-orang kadang melihatnya ini mengentaskan kemiskinan. Tadi program yang kita pakai adalah program pengentasan kemiskinan berbasis kepada masyarakat. Jadi pengurangan kemiskinan berbasis kepada masyarkaat.
Karena itu maka supaya menguatkan sumber daya NU, melalui program ini sehingga dia menyadari persoalan-persoalan hidup dia kemudian dia mengorganisir diri. Baru masuk aspek-aspek ekonomi. Dia diarahkan untuk berjejaring dengan pihak-pihak lain. Ketika semua itu terjadi, dari segi teoritis itu sudah selesai. Artinya satu tahap sudah selesai, masyarakat sudah punya jaringan. Sudah punya organisasi di tingkat lapangan. Kemudian, secara perlahan, nanti periode-periode berikutnya, masuk ke wilayah strategis ini; melakukan advokasi-advokasi sehingga kalau ada advokasi atau ada diskusi mengenai perundang-undngan apa, isu apa, perwakilan-perwakilan dari masyarakat yang dibina ini sudah bisa. Lakpesdam kemudian fungsinya sebagai pendorong saja.
Program-progrma lain juga begitu. Kalau yang PNPM ini, ekonomi kita jadikan sebagai pilot project, uji coba konsep. Yang kedua jadi titik masuk untuk meraka. Tadi itu supaya mereka cerdas, sadar. Mereka paham konsep Mabadi Khoiru Umah, ekonominya juga mengerti. Tidak boleh monopoli ada sering ada musyawarah menggunakan prinsip-prinsip Mabadi Khoiru Umah dalam artian aplikatif ya. Bukan normatif sehingga sebelum bergerak, seluruh petugas-petugas, relawan-relawan, atau kader NU di tingkat lapangan yang membangun program ini, pertama kali yang dilakukan adalah proses penyadaran mengenai khitah 26, Mabadi Khoiru Umah, NU ini mau kemana. Kalau NU itu nggak ada, itu perlu nggak? Mereka diberikan penyadaran begitu. Kalau sampeyan menjadi tugas proyek ya sudah selesai. Nggak ada bedanya dengan yang lain. Itu yang ditanamkan di program ini.
Menurut Lakpesdam, idealnya masyarakat NU secara kolektif maupun individu itu bagaimana?
Idealnya mereka yang bisa menikmati, bersama dengan masyarakat lain pembangunan. Yang kedua, atau tahap berikutnya, bisa berperan menjadi bagian dari peroses pembangunan. Jadi bukan hanya penikmat, tapi melakukan, turut serta dalam pembangunan.
Warga NU yang mengerti menjadi bukan hanya di tingkat nasional tapi di tingkat pedesaaan. Salah satu program ke arah itu namanya Forum Warga di beberapa desa. Forum Warga itu merupakan representasi dari kelomppok-kelompok petani, pedagang, ada di Cilacap, di Jepara, di Wonosobo. Bahkan di Cilacap itu sudah bisa melakukan diversifikasi kegiatan, sampai usaha-usaha mikro-finance; BMT dan mereka bisa memenuhi kebutuhannya antarmereka. Nyambung sekarang dengan program PNPM Pedulii ini.
Yang kedua mereka sudah masuk ke upaya untuk membangun warga NU dan masyarakat umum yang masuk sebagai tengaa kerja ke luar negeri. Dia masuk itu. Dia punya jaringan itu, punya pendidikan itu, untuk keluarga tenaga kerja itu dan punya akses dalam bentuk website, macam-macam. Kerjasamanya dengan yayasan Tifa di Jakarta. Dan mereka dianggap terbaik dalam melaksanakan program Tifa. Itu karena mereka sudah membangun forum warga bertahun-tahun. Nah, sekarang sudah ada organisasinya macam-macam di desa itu sehingga di desa itu, masyarakat NU-nya ngerti-ngerti. Mereka didampingi terus Lakpesdam Cilacap, termasuk di Jepara. Di situ ada orang NU, non-NU. Jadi satu. Karena mereka lebih bisa menerima NU kan.
Nah, itu bukti dari proses-proses pembangunan itu juga harus terlibat dari tingkat masyarakat. Tetapi jangkauan Lakpesdam itu terbatas, sehingga belum merata semua NU begitu.
Bisa disebutkan program-program sekarang terkait pemberdayaan?
Program-program Lakpesdam di antaranya, penguatan pemahaman ke-NU-an dengan menerbitkan jurnal Taswirul Afkar dan belajar Islam. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman warga Nahdliyyin terkait pemikiran keislaman ala NU; Menyebarkan pemahaman aswaja ke msyarakat luas.
Ada program Belajar Islam dengan tujuan menyebarkan ajaran Islam dalam prespektif fiqih, aqidah dan syariah ala Aswaja. Program ini disiarkan oleh saluran TV (MNC-Indovition), setiap hari Rabu, bergantian dengan anggota konsorsium lainnya; Yayasan Paramadina, Masyarakat pemirsa TVMNC Indovition. Telah disiarkan di TVMNC Indovition sebanyak 75 kali, dengan berbagai topik. Narasumber dari PBNU, Lakpesdam dan lembaga/lajnah yang terkait. Lalu ada program pemberdayaan ekonomi umat, penataan dan peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan dan pelayanan kesehatan, pelayanan sosial dan kependudukan, perlindungan tenaga kerja dan buruh, penguatan jaringan kerja nasional dan internasional.
Label:
Holaqoh




